Nuriani Nuriani
Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Bodhi Dharma

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA TERHADAP PENURUNAN KASUS BULLYING DI SMA SWASTA CARNEGIE MEDAN: PENDEKATAN KUANTITATIF DALAM MENGANALISIS PERAN GURU AGAMA Budiman Rakasidih Soetanto Budiman Rakasidih; Nuriani Nuriani; Chandra Chandra
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v7i2.135

Abstract

Bullying di lingkungan sekolah masih menjadi permasalahan serius yang menghambat perkembangan psikologis dan peserta sosial didik. Fenomena ini juga terjadi di SMA Swasta Carnegie Medan, meskipun pendidikan agama telah diterapkan, kasus perundungan masih sering terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Pendidikan Agama Buddha terhadap penurunan kasus bullying serta menelaah peran guru agama dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai Buddhis di kalangan siswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 51 responden siswa SMA Swasta Carnegie Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket dan dianalisis menggunakan uji statistik, meliputi uji normalitas, korelasi Pearson, regresi sederhana, serta uji parsial (t) dan simultan (F). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Buddha berpengaruh signifikan terhadap penurunan perilaku bullying dengan nilai signifikansi 0,023 (<0,05), yang berarti nilai-nilai seperti welas asih, empati, dan pengendalian diri dapat membantu menekan tindakan agresif di kalangan siswa. Namun peran guru agama belum menunjukkan pengaruh yang signifikan secara langsung (Sig. = 0,235), meskipun memiliki kecenderungan memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan karakter siswa. Secara simultan, Pendidikan Agama Buddha dan peran guru agama terbukti berpengaruh signifikan terhadap penurunan kasus bullying dengan nilai signifikansi 0,041 (<0,05). Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan pendidikan agama yang terintegrasi dengan keteladanan guru dapat menjadi strategi efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang harmonis, penuh kasih sayang, dan bebas dari kekerasan di sekolah.
KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DI SMA SWASTA BUDDHIS BODHICITTA MEDAN Wi Wi Law; Nuriani Nuriani; Sunter Candra Yana
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v7i2.136

Abstract

Motivasi belajar merupakan elemen krusial yang memengaruhi pencapaian akademik siswa, dipengaruhi oleh beragam faktor intrinsik dan ekstrinsik. Kecerdasan emosional serta lingkungan pembelajaran dianggap sebagai dua komponen utama yang berperan strategis dalam membentuk dorongan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak kecerdasan emosional (EQ) dan lingkungan pembelajaran terhadap motivasi siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha di SMA Swasta Buddhis Bodhicitta Medan. Pendekatan penelitian kuantitatif dengan desain ex post facto diterapkan, melibatkan 82 siswa yang dipilih melalui teknik simple random sampling dari populasi total sebanyak 461 siswa. Instrumen penelitian dievaluasi berdasarkan validitas dan reliabilitas, dengan koefisien Cronbach's Alpha mencapai 0,804, yang menunjukkan konsistensi internal yang memadai. Analisis data meliputi uji regresi, regresi linier berganda, serta analisis korelasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional memberikan pengaruh signifikan dan dominan terhadap motivasi belajar, tercermin dari koefisien regresi sebesar 0,689 dan nilai signifikansi 0,000. Di samping itu, lingkungan pembelajaran juga menunjukkan pengaruh signifikan dengan koefisien regresi 0,269 dan signifikansi 0,003. Model regresi menghasilkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,515, yang menyiratkan bahwa kedua variabel tersebut mampu menjelaskan 51,5% variasi motivasi belajar siswa. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan mengelola emosi serta kondisi lingkungan pembelajaran yang mendukung berkontribusi secara langsung pada peningkatan motivasi belajar. Penelitian ini mendorong penguatan program pengembangan EQ serta perbaikan lingkungan pembelajaran guna meningkatkan kualitas proses pembelajaran.