Pesatnya tren urbanisasi memicu peningkatan pembangunan gedung tinggi yang langsing, sehingga sangat rentan terhadap simpangan lateral akibat beban gempa ekstrem pada wilayah KDS (Kategori Desain Seismik) E. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas sistem outrigger truss dalam meningkatkan kekakuan global serta menentukan posisi vertikal optimalnya pada gedung perkantoran 25 lantai (100 meter) dengan rasio kelangsingan 4,76. Metode yang digunakan adalah analisis dinamik respons spektrum menggunakan perangkat lunak ETABS, dengan membandingkan model kontrol tanpa outrigger terhadap tiga variasi posisi vertikal, yaitu: M1 (0,33H), M2 (0,50H), dan M3 (0,75H). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan outrigger secara signifikan meningkatkan kekakuan lateral, dimana model M2 memberikan optimasi tertinggi dengan reduksi periode fundamental sebesar 17,24%. Seluruh model memenuhi syarat batas layan simpangan antar-lantai (story drift) sesuai SNI 1726:2019, dengan reduksi simpangan atap maksimum sebesar 17,39% pada model M3. Namun, model M3 memicu lonjakan gaya aksial kolom (axial jump) yang destruktif hingga 356,47% akibat mekanisme transfer beban yang ekstrem. Kesimpulannya, model M2 ditetapkan sebagai konfigurasi paling optimum karena menyajikan keseimbangan antara peningkatan kekakuan global dan distribusi gaya dalam yang aman. Temuan ini memberikan rekomendasi praktis bagi perencana struktur dalam mengoptimalkan sistem penahan gaya lateral pada bangunan tinggi di zona risiko gempa tinggi. Kata kunci: Outrigger Truss, Gedung Langsing, Simpangan Lateral, KDS E, Posisi Optimum.