AbstractThis study aims to discover the distinct characteristics of King Bogadhenta wayang character from a mythological-ritual perspective. Narratively, King Bogadhenta has supernatural power which cannot be found in other wayang characters. This unique supernatural power is his tears that can mutually revive King Bogadhenta himself, his wife, and his elephant. The process of his death actually shows his supernatural power, which other characters in wayang did not have. Referring to Baratayuda war as a ritual, Prabu Bogadhenta’s death has a particular significance in a mythological-ritual context. With the of ‘epic-ritual-myth’ and ‘laku-mantra-offering’ analysis, this study reveals that King Bogadhenta has performed Tantric rituals and he has Indra’s characteristics. His death becomes an offering in Baratayuda war ritual. When King Bogadhenta is killed by Arjuna, the son and reincarnation of Indra and also the manifestation of Shiva, King Bogadhenta’s death is perfected. In relation to the Baratayuda war as ritual, it means that King Bogadhenta has successfully achieved his ritual and life perfection. The perfection of the Baratayuda ritual cannot be accomplished by war victory; rather, King Bogadhenta, as a devotee of Shiva, was able to bring his god into existence and returned to his origin through his death in Tegal Kurusetra.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan makna tokoh wayang Prabu Bogadhenta dalam perspektif mitologi-ritual. Dikisahkan Prabu Bogadhenta memiliki kesaktian yang tidak dimiliki oleh tokoh wayang lainnya. Kesaktiannya yaitu air mata yang dapat saling menghidupkan antara Prabu Bogadhenta, istri, dan gajah miliknya. Berdasarkan peristiwa kematiannya didapatkan persoalan mengenai kesaktiannya yang tidak dimiliki oleh tokoh lain dalam tradisi wayang. Selain itu, mengacu pada perang Baratayuda sebagai sebuah ritual maka kematian Prabu Bogadhenta memiliki makna tersendiri dalam konteks mitologi-ritual. Data penelitian diperoleh dengan melakukan transkrip rekaman audio Lakon Bogadhenta Gugur sajian Ki Hadi Sugito, pengamatan terhadap lakon-lakon yang memiliki hubungan dengan tokoh Prabu Bogadhenta, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian berdasarkan konsep ‘epik-ritual-mite’ dan konsep ‘laku-mantra-sesaji’ menunjukkan bahwa Prabu Bogadhenta melakukan ritual Tantrik dan memiliki aspek Indra. Kematiannya menjadi aspek sesaji dalam ritual perang Baratayuda. Prabu Bogadhenta gugur di tangan Arjuna sebagai putra dan reinkarnasi Indra, sekaligus sebagai manifestasi Syiwa yang mampu menyempurnakan Prabu Bogadhenta. Mengacu pada perang Baratayuda sebagai ritual, maka Prabu Bogadhenta telah berhasil dalam ritualnya dan mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan ritual Baratayuda tidak dicapai dengan kemenangan, namun Prabu Bogadhenta sebagai pemuja Syiwa mampu menghadirkan dewa yang dipujanya dan kembali kepada dewa asal-muasalnya yaitu Indra melalui kematiannya di Tegal Kurusetra.