Aris Wahyudi
Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Wacana Kritis (CDA) Lakon Mintaraga dalam Pagelaran Wayang Kulit Aris Wahyudi; Farhan Khumaini; Krystiadi Krystiadi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.12421

Abstract

AbstractMintaraga play, so called Arjuna Wiwaha play, is an important performance in wayang tradition. Its significance is equal to Dewaruci or Sastrajendra play as it is considered as classical play containing Javanese spiritual teachings. Having been analysed using critical discourse analysis (CDA), this study reveals new values that represent the socio-political reality of the era. The values are rejections of social hegemony, particularly caste, which closely linked to the power system.AbstrakLakon Mintaraga yang sering disebut lakon Arjuna Wiwaha merupakan lakon penting dalam tradisi wayang. Keberadaannya sering disejajarkan dengan lakon Dewaruci atau lakon Sastrajendra yang dipandang sebagai lakon sepuh yang mengandung ajaran spiritual Jawa. Realitas di atas, setelah ditelaah dengan analisis wacana kritis (CDA), ternyata diperoleh nilai-nilai baru yang mempresentasikan realitas sosial politik yang mewakili nafas zamannya. Nilai-nilai tersebut adalah penolakan terhadap hegemoni sosial terutama tentang kasta yang berkaitan erat dengan sistem kekuasaan.
Prabu Bogadhenta dalam Lakon Bogadhenta Gugur oleh Ki Hadi Sugito: Sebuah Kajian Mitologi-Ritual Mikael Satrio Murbo Suseto; Aris Wahyudi; Ign. Krisna Nuryanta Putra
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.8037

Abstract

AbstractThis study aims to discover the distinct characteristics of King Bogadhenta wayang character from a mythological-ritual perspective. Narratively, King Bogadhenta has supernatural power which cannot be found in other wayang characters. This unique supernatural power is his tears that can mutually revive King Bogadhenta himself, his wife, and his elephant. The process of his death actually shows his supernatural power, which other characters in wayang did not have. Referring to Baratayuda war as a ritual, Prabu Bogadhenta’s death has a particular significance in a mythological-ritual context. With the of ‘epic-ritual-myth’ and ‘laku-mantra-offering’ analysis, this study reveals that King Bogadhenta has performed Tantric rituals and he has Indra’s characteristics. His death becomes an offering in Baratayuda war ritual. When King Bogadhenta is killed by Arjuna, the son and reincarnation of Indra and also the manifestation of Shiva, King Bogadhenta’s death is perfected. In relation to the Baratayuda war as ritual, it means that King Bogadhenta has successfully achieved his ritual and life perfection. The perfection of the Baratayuda ritual cannot be accomplished by war victory; rather, King Bogadhenta, as a devotee of Shiva, was able to bring his god into existence and returned to his origin through his death in Tegal Kurusetra.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan makna tokoh wayang Prabu Bogadhenta dalam perspektif mitologi-ritual. Dikisahkan Prabu Bogadhenta memiliki kesaktian yang tidak dimiliki oleh tokoh wayang lainnya. Kesaktiannya yaitu air mata yang dapat saling menghidupkan antara Prabu Bogadhenta, istri, dan gajah miliknya. Berdasarkan peristiwa kematiannya didapatkan persoalan mengenai kesaktiannya yang tidak dimiliki oleh tokoh lain dalam tradisi wayang. Selain itu, mengacu pada perang Baratayuda sebagai sebuah ritual maka kematian Prabu Bogadhenta memiliki makna tersendiri dalam konteks mitologi-ritual. Data penelitian diperoleh dengan melakukan transkrip rekaman audio Lakon Bogadhenta Gugur sajian Ki Hadi Sugito, pengamatan terhadap lakon-lakon yang memiliki hubungan dengan tokoh Prabu Bogadhenta, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian berdasarkan konsep ‘epik-ritual-mite’ dan konsep ‘laku-mantra-sesaji’ menunjukkan bahwa Prabu Bogadhenta melakukan ritual Tantrik dan memiliki aspek Indra. Kematiannya menjadi aspek sesaji dalam ritual perang Baratayuda. Prabu Bogadhenta gugur di tangan Arjuna sebagai putra dan reinkarnasi Indra, sekaligus sebagai manifestasi Syiwa yang mampu menyempurnakan Prabu Bogadhenta. Mengacu pada perang Baratayuda sebagai ritual, maka Prabu Bogadhenta telah berhasil dalam ritualnya dan mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan ritual Baratayuda tidak dicapai dengan kemenangan, namun Prabu Bogadhenta sebagai pemuja Syiwa mampu menghadirkan dewa yang dipujanya dan kembali kepada dewa asal-muasalnya yaitu Indra melalui kematiannya di Tegal Kurusetra.
Struktur Lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Redi Suta Yasa: Sebuah Perbandingan Sakti Sedono; Aris Wahyudi; Ign. Krisna Nuryanta Putra
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.13460

Abstract

AbstractThis study aims to find similarities and differences in dramatic structures of Murwakala play by Ki Awin and Murwakala play by Ki Redi Suta Yasa. Dramatic structure model by Bakdi Sumanto is used in the analysis. The results of the study show that there are similarities and differences between the Murwakala play by Ki Awin and by Ki Resi Suta Yasa. The similarities are story movement, several character names, identical characters and themes. While the differences lie in the number of story movements, number of scenes, number of characters, and character names. The differences indicate that the Betawinesse Murwakala play by Ki Awin has developed and changed, leading to a more complex narrative than the Surakarta Murwakala play by Ki Redi Suta Yasa.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan struktur dramatik lakon Murwakala Ki Awin dan lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa. Data penelitian ini berupa rekaman audio-visual lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa dan lakon Murwakala hasil wawancara dengan Ki Awin. Konsep struktur dramatik model Bakdi Sumanto digunakan dalam analisis. Untuk mencapai hasil yang diinginkan metode komparasi sebagai strategi analisis digunakan dalam tulisan ini. Adapun langkah awal yang dilakukan adalah studi pustaka dan wawancara untuk menentukan point of view penelitian dan menentukan data. Data terpilih lalu dideskripsikan dalam bentuk balungan lakon. Langkah terakhir adalah membandingkan lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Redi Suta Yasa. Unsur yang dibandingkan dalam penelitian ini ialah alur, tokoh, dan tema. Hasil penelitian menunjukkan antara lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Resi Suta Yasa terdapat persamaan dan perbedaan. Adapun persamaan dari keduanya yaitu dalam hal pergerakan cerita; beberapa nama tokoh; tokoh identik; dan tema. Sedangkan perbedaannya terletak pada jumlah pergerakan cerita, jumlah adegan, jumlah tokoh, dan nama tokoh. Munculnya perbedaan menunjukkan bahwa lakon Murwakala Ki Awin dari Betawi telah mengalami perkembangan dan perubahan ke arah cerita yang lebih kompleks dibanding lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa dari Surakarta.