Abdul Manan
Institut Agama Islam Pangeran Dharma Kusuma Indramayu, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Pendidikan Karakter Ibnu Miskawaih dan Relevansinya dalam Pendidikan Agama Islam untuk Generasi Alpha: Sebuah Sintesis Filosofis dan Pedagogis Abdul Manan; FRENKY MUBAROK
Jurnal Pendidikan Educandum Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Pendidikan Educandum
Publisher : Fakultas Pendidikan IAI Pangeran Dharma Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55656/jpe.v6i2.658

Abstract

Dinamika sosiokultural kontemporer yang ditandai dengan disrupsi teknologi digital telah melahirkan Generasi Alpha (lahir 2010–2025), yaitu kohort manusia pertama yang tumbuh dalam ekosistem digital yang hiper-terkoneksi. Kondisi ini menghadirkan tantangan multidimensional bagi Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya dalam internalisasi nilai akhlak yang seringkali tergerus oleh budaya instan, fragmentasi perhatian, validasi algoritmik, dan erosi otoritas moral tradisional. Di tengah kesenjangan antara pendekatan pembelajaran PAI yang cenderung tekstual-transaksional dengan kebutuhan pedagogis generasi digital yang kritis dan partisipatif, khazanah etika Islam klasik menawarkan kerangka filosofis yang relevan untuk diaktualisasikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep pendidikan karakter menurut Ibnu Miskawaih dalam karya monumentalnya Tahdzīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq, serta mengeksplorasi relevansinya bagi transformasi pedagogi PAI di era Generasi Alpha. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis tematik hermeneutis, penelitian ini mensintesis sumber primer karya Ibnu Miskawaih dengan literatur akademik mutakhir (2018–2026) mengenai psikologi perkembangan digital, etika media, dan filsafat pendidikan Islam. Temuan menunjukkan bahwa konsep tripartit jiwa (nafs al-nāṭiqah, al-ghaḍabīyah, al-shahwāniyyah), prinsip keseimbangan (al-wasaṭ), serta metode riyāḍah (latihan moral), takwīn al-‘ādah (pembiasaan), dan muḥāsabah (introspeksi diri) dapat direkontekstualisasi ke dalam ekosistem pembelajaran abad ke-21. Relevansi pemikiran Ibnu Miskawaih termanifestasi dalam lima dimensi utama: (1) pendekatan rasional-dialogis untuk menjawab skeptisisme generatif; (2) habituasi etis melalui kreasi konten dan project-based learning digital; (3) redefinisi peran guru sebagai fasilitator refleksi moral dan teladan digital; (4) integrasi jurnal refleksi digital berbasis aplikasi untuk latihan muḥāsabah; serta (5) penguatan sinergi ekosistem pendidikan keluarga-sekolah-komunitas untuk mengarahkan pencapaian sa‘ādah (kebahagiaan sejati) yang transenden. Artikel ini menyimpulkan bahwa warisan etika Ibnu Miskawaih bukan artefak historis, melainkan kerangka dinamis yang dapat memandu desain kurikulum, kompetensi guru, dan kebijakan PAI yang responsif, holistik, dan transformatif dalam membentuk generasi Alpha yang resilien secara moral, kritis secara digital, dan utuh secara spiritual.