Dinamika sosial, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tantangan peradaban abad ke-21 menuntut Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia untuk bertransformasi dari model pengajaran yang tekstual dan hafalan menjadi pendekatan yang kontekstual, kritis, dan transformatif. Artikel ini mengkaji konstruksi pemikiran pendidikan Islam progresif Fazlur Rahman, khususnya metode hermeneutika double movement (gerakan ganda), serta mengeksplorasi relevansinya dalam pengembangan kurikulum PAI di Indonesia, terutama dalam kerangka Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, penelitian ini menganalisis karya-karya primer Rahman, dokumen kurikulum nasional, dan kajian akademik terkini. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan Rahman menawarkan fondasi epistemologis yang kokoh melalui integrasi ilmu agama dan umum, penguatan nalar kritis, serta orientasi pada keadilan sosial dan kemanusiaan. Gagasan tersebut secara signifikan selaras dengan paradigma Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta yang diamanatkan dalam KMA 1503/2025, khususnya dalam hal kontekstualisasi nilai universal, penguatan moderasi beragama, dan penciptaan lingkungan belajar yang humanis. Artikel ini merumuskan lima prinsip kurikuler operasional berbasis double movement serta strategi implementasi yang mencakup penguatan kapasitas guru, pengembangan bahan ajar dialogis, asesmen holistik, dan kemitraan komunitas. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan teoretis dan praktis bagi reformasi kurikulum PAI yang progresif, inklusif, dan responsif terhadap tantangan zaman tanpa mengorbankan autentisitas nilai-nilai keislaman.