Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Studi Kuantitatif Persepsi Wisatawan terhadap Atribut Pariwisata Gastronomi di Kawasan Pecinan Kota Semarang Tuwuh Adhistyo; Tri Kuntoro Priyambodo; Muhamad Muhamad; Eni Harmayani
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol. 17 No. 1 (2026): March
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/khasanah.v17i1.12170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi wisatawan terhadap sembilan atribut gastronomi yaitu pengalaman, pergerakan, tempat, makanan, budaya, sejarah, rempah-rempah, ritual dan upacara, serta narasi guna mengonstruksi pengalaman wisata yang bermakna di Kawasan Pecinan Kota Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei terhadap 204 responden, dan data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis statistik deskriptif dengan alat bantu SPSS untuk memetakan distribusi frekuensi, persentase, serta tingkat persetujuan responden pada setiap dimensi atribut gastronomi. Melalui teknik analisis tersebut, penelitian ini membedah bagaimana interaksi dinamis antara elemen fisik, sensorik, dan intelektual membentuk pengalaman wisatawan. Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa dimensi Tempat (Place) merupakan determinan paling dominan dengan tingkat persetujuan sebesar 92,2%, di mana keunikan arsitektur dan atmosfer kawasan menjadi instrumen utama yang memvalidasi otentisitas pengalaman. Selain itu, wisatawan menunjukkan apresiasi tinggi terhadap otentisitas rasa serta pengetahuan sejarah terkait kuliner warisan, yang memposisikan kawasan ini sebagai destinasi pariwisata gastronomi yang komprehensif, autentik, dan edukatif. Meskipun dimensi Ritual dan Upacara mencatatkan nilai terendah dan memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan keterlibatan interaktif wisatawan, secara strategis Kawasan Pecinan Semarang telah berhasil mengonversi akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa menjadi keunggulan kompetitif yang bernilai (valuable), langka (rare), dan sulit ditiru (inimitable). Temuan ini menegaskan bahwa transformasi dari sekadar wisata kuliner menjadi pengalaman gastronomi yang bermakna didukung oleh narasi sejarah dan tradisi lintas generasi yang menciptakan daya saing destinasi berkelanjutan.