Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Disonansi Kognitif pada Penggemar BTS (ARMY) di Indonesia terkait Persepsi Apatisme Idola dalam Isu Kemanusiaan Palestina Ananda Fairuz Nafisya; Novi Wulandari; Elis Yulia Ningsih
Jurnal Diversita Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v12i1.17444

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat disonansi kognitif pada penggemar BTS (ARMY) di Indonesia terkait persepsi apatisme idola dalam isu kemanusiaan Palestina. Metode dalam penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan model deskriptif. Adapun teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 101 orang, yang merupakan penggemar BTS (ARMY) di Indonesia berusia di atas 18 tahun. Instrumen penelitian menggunakan Skala Disonansi Kognitif berdasarkan teori Sweeney dkk yang terdiri dari emosi, kebijaksanaan pembelian, dan kekhawatiran atas kesepakatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 101 orang, terdapat 42,6% yang memiliki disonansi kognitif yang tinggi dan 37,6% memiliki disonansi kognitif yang sedang, serta 19,8% memiliki disonansi kognitif yang rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar penggemar BTS (ARMY) mengalami konflik antara keyakinan atau nilai pribadi dengan sikap idola terhadap isu kemanusiaan di Palestina atau dalam hal ini disebut disonansi kognitif. Dimensi yang paling berpengaruh pada penggemar BTS (ARMY) adalah emosional dan kekhawatiran atas kesepakatan, artinya sebagian besar penggemar BTS (ARMY) merasa marah, kecewa, dan bingung setelah mengetahui sikap apatis BTS terhadap isu kemanusiaan Palestina.
HUBUNGAN SELF-COMPASSION DENGAN KECEMASAN UNTUK MENIKAH PADA WANITA DEWASA AWAL DI WILAYAH URBAN Ni Komang Ratna Kumala Sari; Elis Yulia Ningsih
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13453

Abstract

ABSTRACT Marriage is one of the key developmental tasks of early adulthood; however, an emerging phenomenon in urban areas indicates a tendency among early adult women to delay marriage, accompanied by anxiety regarding future married life. This condition is presumed to be associated with self-compassion, defined as an individual's ability to be kind, understanding, and non-judgmental toward oneself when facing life's difficulties. This study aims to examine the relationship between self-compassion and marriage anxiety among early adult women in urban areas. This study employed a quantitative approach with a correlational design involving 120 early adult women aged 19-40 years, unmarried, and residing in urban areas, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using a self-compassion scale and a marriage anxiety scale, then analyzed using Spearman's Rank correlation test, as the data were not normally distributed. The results revealed a significant negative relationship between self-compassion and marriage anxiety (r = -0.432; p = 0.000; p < 0.05), indicating that the higher the self-compassion possessed by an individual, the lower the marriage anxiety experienced. These findings emphasize the importance of self-compassion as a psychological factor that helps early adult women cope with marriage-related concerns in a more adaptive manner. ABSTRAK Pernikahan merupakan salah satu tugas perkembangan penting pada masa dewasa awal, namun fenomena yang berkembang di wilayah urban menunjukkan kecenderungan wanita dewasa awal untuk menunda pernikahan yang disertai kecemasan terhadap kehidupan pernikahan di masa depan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan self-compassion, yaitu kemampuan individu untuk bersikap penuh kebaikan, pengertian, serta tidak menghakimi diri sendiri ketika menghadapi kesulitan hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara self-compassion dengan kecemasan untuk menikah pada wanita dewasa awal di wilayah urban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional pada 120 wanita dewasa awal berusia 19-40 tahun, belum menikah, dan berdomisili di wilayah urban, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala self-compassion dan skala kecemasan menikah, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman's Rank karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dan kecemasan untuk menikah (r =   -0,432; p = 0,000; p<0,05), yang berarti semakin tinggi self-compassion yang dimiliki individu, semakin rendah kecemasan untuk menikah yang dirasakan. Temuan ini menegaskan pentingnya self-compassion sebagai faktor psikologis yang berperan membantu wanita dewasa awal menghadapi kekhawatiran terkait pernikahan secara lebih adaptif.
Hubungan Hardiness dengan Postpartum Stress Pada Ibu Pasca Melahirkan di Wilayah Jabodetabek Indah Zahra Pratiwi; Katleanti Hardianto; Elis Yulia Ningsih
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.26038

Abstract

ABSTRACT The postpartum period is a vulnerable phase in which mothers experience physical, hormonal, and psychological changes that may lead to postpartum stress. Hardiness is considered a protective personality factor that helps individuals cope with stressful situations. This study aimed to examine the relationship between hardiness and postpartum stress among postpartum mothers in the JABODETABEK area. This quantitative study used a correlational design with 115 postpartum mothers selected through convenience sampling. Data were collected using the Dispositional Resilience Scale (DRS-15 v3) and the Maternal Postpartum Stress Scale (MPSS), then analyzed using Spearman’s rank correlation. The results showed a significant negative relationship between hardiness and postpartum stress (ρ = -0.293; p = 0.001), indicating that higher hardiness is associated with lower postpartum stress. These findings suggest that hardiness plays an important role in supporting mothers’ psychological adaptation during the postpartum period. Keywords: Hardiness, Postpartum Stress, Postpartum Mothers.  ABSTRAK Masa postpartum merupakan periode rentan karena ibu mengalami perubahan fisik, hormonal, dan psikologis yang dapat memicu postpartum stress. Hardiness merupakan faktor kepribadian yang berperan sebagai pelindung dalam menghadapi situasi penuh tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hardiness dengan postpartum stress pada ibu pasca melahirkan di wilayah JABODETABEK. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional dengan melibatkan 115 ibu pasca melahirkan yang dipilih menggunakan convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Dispositional Resilience Scale (DRS-15 v3) dan Maternal Postpartum Stress Scale (MPSS), kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara hardiness dan postpartum stress (ρ = -0,293; p = 0,001), yang berarti semakin tinggi hardiness maka semakin rendah postpartum stress. Temuan ini menunjukkan bahwa hardiness berperan penting dalam membantu adaptasi psikologis ibu pada masa postpartum. Kata Kunci: Hardiness, Postpartum Stress, Ibu Pasca Melahirkan.