Kehidupan remaja santri di SMP berbasis pesantren tidak hanya mengembangkan aspek akademis dan spiritual, tetapi juga mengukuhkan identitas sosial laki-laki melalui disiplin, pengendalian perasaan, dan perilaku teladan. Dalam pendidikan Islam, pembentukan maskulinitas religius sangat penting karena berkaitan dengan watak, tanggung jawab sosial, dan kualitas hidup santri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penerapan disiplin, cara mengekspresikan emosi, dan sosok teladan laki-laki dalam pengembangan karakter maskulinitas religius santri remaja, dengan fokus pada pengalaman sosial sehari-hari di pesantren. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi sosial. Data dikumpulkan melalui pengamatan aktivitas harian, wawancara mendalam dengan santri dan pengasuh, serta dokumentasi program dan peraturan institusi. Analisis data dilakukan melalui pengkodean, penyajian data, dan verifikasi triangulatif. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa santri laki-laki dibentuk menjadi individu yang tangguh, mandiri, taat, dan bertanggung jawab melalui rutinitas asrama yang ketat. Pengasuh dan ustaz berperan penting sebagai figur teladan yang mencerminkan ketegasan, kesederhanaan, dan kedisiplinan. Selain itu, pengelolaan emosi santri distabilkan melalui regulasi lembaga, hukuman edukatif, ibadah, dan interaksi dengan senior guna membangun kontrol diri dan kematangan konflik. Kesimpulan: Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis bagi studi maskulinitas religius, serta dapat menjadi dasar pengembangan karakter dan penguatan sistem pendidikan di lembaga pesantren.