Kotoran sapi di Desa Masaran belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian masyarakat masih memiliki keterbatasan pengetahuan serta keterampilan dalam mengolahnya menjadi pupuk organik. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendampingan yang memanfaatkan potensi lokal sekaligus memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Masaran dalam memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk bokashi sebagai alternatif pengelolaan limbah peternakan dan pendukung kegiatan pertanian. Kegiatan menggunakan pendekatan deskriptif-partisipatif dengan melibatkan 25 peserta yang terdiri atas peternak dan masyarakat yang berkegiatan di bidang pertanian. Pelaksanaan meliputi observasi, sosialisasi, demonstrasi, praktik pembuatan bokashi, pendampingan fermentasi, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, pretest, posttest, penilaian keterampilan, dan angket respons peserta. Hasil menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 56,8 pada pretest menjadi 84,4 pada posttest, sedangkan peserta yang memperoleh nilai minimal 75 meningkat dari 32% menjadi 92%. Rata-rata 84,8% peserta mampu melakukan pembuatan bokashi dengan kategori baik. Fermentasi selama 14 hari menghasilkan bokashi berwarna cokelat kehitaman, bertekstur remah, beraroma tidak menyengat, dan bersuhu relatif stabil. Respons peserta mencapai 90,4%, dan 84% peserta telah memanfaatkan bokashi untuk tanaman. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengolah kotoran sapi secara produktif dan berkelanjutan.