Rhupus syndrome merupakan sindrom tumpang tindih yang jarang terjadi antara artritis reumatoid (AR) dan lupus eritematosus sistemik (LES), dengan manifestasi klinis dan imunologis kedua penyakit secara bersamaan. Kasus ini penting karena menunjukkan kombinasi Rhupus syndrome dengan anemia hemolitik autoimun (AIHA) berat, perdarahan saluran cerna akibat penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), dan kolelitiasis yang jarang dilaporkan sehingga menimbulkan tantangan diagnosis dan tata laksana. Seorang perempuan berusia 58 tahun datang dengan keluhan nyeri sendi kronik disertai deformitas multipel. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan faktor reumatoid reaktif, kadar anti-cyclic citrullinated peptide (anti-CCP) meningkat, ANA positif dengan titer 1:320, direct Coombs test positif, kadar komplemen C3 dan C4 menurun, serta kadar hemoglobin 4,45 g/dL. Pemeriksaan radiologi mendukung diagnosis artritis reumatoid, sedangkan temuan imunologis memenuhi kriteria lupus eritematosus sistemik (LES) aktif dengan komplikasi anemia hemolitik autoimun (AIHA). Ultrasonografi abdomen menunjukkan kolelitiasis, sementara endoskopi saluran cerna memperlihatkan gastritis kronis sebagai penyebab perdarahan saluran cerna yang berkaitan dengan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Pada fase akut, pasien mendapat transfusi darah, kortikosteroid sistemik, hidroksiklorokuin, inhibitor pompa proton, serta terapi suportif. Pemberian metotreksat (MTX) sebagai conventional synthetic disease-modifying antirheumatic drug (csDMARD) ditunda mengingat adanya perdarahan saluran cerna dan kondisi klinis yang belum stabil. Setelah terjadi perbaikan klinis, peningkatan kadar hemoglobin, serta stabilisasi parameter laboratorium, pasien melanjutkan terapi siklosporin sebagai imunosupresan dan metotreksat sebagai terapi csDMARD untuk mengendalikan manifestasi artritis.