Penelitian ini membahas mengenai citra diri yang terbentuk pada fanboy sebagai korban kekerasan seksual. Pertanyaan “mengapa laki-laki menyukai laki-laki?” adalah salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan kepada para fanboy K-Pop tentang orientasi romantis mereka. Dalam beberapa artikel mengenai fanboy K-Pop, mencatat mereka rentan terhadap tuduhan sebagai homoseksual, banci, atau effeminate. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana citra diri dan pengalaman fanboy sebagai korban kekerasan seksual dan dampak citra diri tersebut terhadap kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus, karena subjek penelitian adalah fanboy korban kekerasan seksual, yang membutuhkan banyak data kontekstual dan aktual, dengan kata lain peneliti membutuhkan data dari kejadian nyata di lapangan untuk menemukan solusi untuk masalah tersebut. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 3 orang informan utama dan 3 orang significant oders yang didapatkan dari teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan teknik analisis dara dari Milies Huberman dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan fanboy memiliki citra diri yang negatif dan tidak ada dampak akademik, tetapi sekalipun informan tidak melaporkan penurunan langsung dalam prestasi akademik, pengalaman kekerasan seksual dapat menyebabkan hambatan psikologis seperti kecemasan dan penurunan kepercayaan diri. Penelitian ini memberikan wawasan bagi masyarakat umum dan guru bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk meningkatkan rasa empati dan memberikan gambaran korban laki-laki yang mengalami kekerasan seksual, sehingga dapat merancang layanan bimbingan dan konseling yang sesuai.