A. Syihabuddin Aniq Jimly
Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ONOMASTIKA KOMERSIAL DAN LINGUISTIK FORENSIK: TINJAUAN LITERATUR TENTANG SENGKETA MEREK DAGANG DI INDONESIA A. Syihabuddin Aniq Jimly; Imam Hanafi; Husnul Athiya
TANDA Vol 6 No 03 (2026): BAHASA DAN BUDAYA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v6i03.2813

Abstract

Meningkatnya jumlah sengketa merek dagang di Indonesia menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan instrumen analisis yang lebih objektif dalam menafsirkan frasa “persamaan pada pokoknya” yang selama ini cenderung bergantung pada penilaian subjektif hakim. Meskipun kajian hukum mengenai sengketa merek telah berkembang pesat, penelitian yang mengintegrasikan perspektif onomastika komersial dan linguistik forensik masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tren tipologi sengketa merek dagang di Indonesia selama satu dekade terakhir, mengidentifikasi parameter linguistik forensik yang digunakan dalam pembuktian sengketa, serta merumuskan kerangka objektivitas analisis sengketa merek berbasis pendekatan interdisipliner. Penelitian menggunakan metode tinjauan literatur dengan pendekatan naratif terhadap artikel jurnal dan skripsi yang diperoleh dari Google Scholar melalui perangkat lunak Publish or Perish. Data dianalisis secara kualitatif menggunakan kerangka parameter confusing similarity ‘kemiripan yang membingungkan’ yang dikemukakan oleh Shuy (2002), meliputi aspek fonetik, semantik, dan visual, kemudian dievaluasi ketajamannya melalui perspektif bahasa hukum objektif yang dikembangkan oleh Gibbons (2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengketa merek di Indonesia didominasi oleh kasus pembajakan merek, persamaan pada pokoknya, perebutan istilah generik, dan konvergensi kelas barang atau jasa. Selain itu, aspek visual, fonetik, dan semantik merupakan parameter yang digunakan dalam pembuktian sengketa merek. Namun, evaluasi berdasarkan perspektif bahasa hukum objektif menunjukkan bahwa penerapan parameter tersebut masih didominasi oleh intuisi dan interpretasi subjektif, terutama pada aspek visual, sehingga berpotensi menimbulkan disparitas putusan dan ketidakpastian hukum. Penelitian ini menawarkan Model Analisis Semiotik-Forensik Merek (MAS-FM) sebagai kerangka objektif untuk meningkatkan konsistensi putusan, kepastian hukum, dan kualitas pembuktian dalam penyelesaian sengketa merek di Indonesia.