Noni Mulyani
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI KELAHIRAN DALAM UPACARA ADAT SUNDA: STUDI ETNOGRAFI DI KAWALI, CIAMIS, JAWA BARAT Noni Mulyani; Ruhaliah
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.3687

Abstract

Abstrak: Tradisi kelahiran masyarakat Sunda di Kawali, Ciamis, mencerminkan kearifan lokal dan spiritual yang menghadapi tantangan modernisasi, sehingga diperlukan upaya pelestarian untuk memastikan keberlangsungannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji tradisi tersebut sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai filosofis, sosial, dan spiritual. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, penelitian ini dibedah melalui teori kebudayaan interpretatif Clifford Geertz untuk mengurai kedalaman makna simbol dan teori liminalitas Victor Turner untuk menganalisis fase transisi kehidupan. Temuan menunjukkan bahwa ritual seperti nujuh bulanan, puputan, nincak taneuh, dan sawér, merupakan sistem simbol yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia, alam, spiritualitas, dan komunitas. Melalui ruang liminal ritual tersebut, terjadi rekonstruksi status sosial anak dan orang tua dalam struktur masyarakat. Praktik ini tetap relevan sebagai strategi menegaskan identitas budaya Sunda di tengah arus globalisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memahami cara komunitas lokal menegosiasikan memori kolektif dan eksistensi budaya mereka di era modern. Kata kunci: Tradisi kelahiran, upacara adat Sunda, Clifford Geertz, Victor Turner, etnografi.   Abstract: The birth traditions of the Sundanese community in Kawali, Ciamis, reflect local and spiritual wisdom facing modernization challenges, necessitating preservation efforts to ensure their continuity. This study aims to examine these traditions as a cultural heritage rich in philosophical, social, and spiritual values. Utilizing a qualitative method with an ethnographic approach, this research is analyzed through Clifford Geertz’s interpretative theory of culture to unravel the depth of symbolic meanings and Victor Turner’s theory of liminality to examine the transitional phases of life. The findings indicate that rituals such as nujuh bulanan, puputan, nincak taneuh, and sawér serve as symbol systems reflecting a harmonious relationship between humans, nature, spirituality, and community. Within the liminal spaces of these rituals, the social status of both the child and parents is reconstructed within the societal structure. These practices remain relevant as a strategy to assert Sundanese cultural identity amidst globalization. This study offers a theoretical contribution to understanding how local communities negotiate their collective memory and cultural existence in the modern era. Keywords: Birth tradition, Sundanese traditional ceremony, Clifford Geertz, Victor Turner, ethnography.
Lirik Tembang Cianjuran Wanda Panambih dalam Kajian Struktur dan Etnopedagogik Noni Mulyani; Yayat Sudaryat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7317

Abstract

The lyric of Cianjuran Wanda Panambih (Complementary Type) is a kind of lyric that is much inspired by kawih and kesindenan. The use of barels include pelog degung, sorog, salendro, mandalungan, and wisaya.  This research aims to find out and determine the structure of lyric Cianjuran wanda panambih songs based on the structures and ethnopedagogics. In this research, a qualitative approach with a descriptive method is applied. Data is collected through documentation techniques and interview techniques. The source of this research data is the lyrics of Cianjuran song by Mang Bakang.  The results of the research find 33 (thirty-three) lyrics of the song Cianjuran wanda panambih by Mang Bakang, which are observed in terms of structure and ethnopedagogic value. In terms of structure, 10 lyrics are found in the form of pupuh, 18 lyrics in the form of free poetry, and 5 lyrics in the form of insertions. In the lyrics, most images are found, the most dominant theme is humanity, the most dominant tone is educating the reader or reminding the reader, and the most dominant figurative language is the paraphrasing base style. In terms of étnopédagogic, 71 characters are found that refer to the educational value of cultural and national characters based on the Curriculum Center, Research and Development Agency, Ministry of National Education. This research can add insight into the elements of poetry in Cianjuran songs and the emergence of a sense of pride from the community towards Cianjuran songs. AbstrakLirik Tembang Cianjuran Wanda Panambih (Tipe Pelengkap) merupakan tipe lirik tembang yang dipengaruhi oleh kawih dan kepesindenan. Laras yang digunakan meliputi pelog degung, sorog, salendro, mandalungan, dan wisaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memaparkan struktur lirik tembang Cianjuran wanda panambih yang dikaji dari struktur dan etnopedagogik. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan teknik wawancara. Sumber data penelitian ini adalah lirik tembang Cianjuran karya Mang Bakang. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 33 lirik tembang Cianjuran wanda panambih karya Mang Bakang yang dikaji dari segi struktur dan nilai etnopedagogik. Dari segi struktur ditemukan 10 lirik dalam bentuk pupuh, 18 lirik dalam bentuk puisi bebas, dan 5 lirik dalam bentuk sisindiran. Di dalam lirik tersebut, kebanyakan ditemukan imaji rasa; tema yang paling dominan, yaitu kemanusiaan; nada yang paling dominan, yaitu mendidik pembaca atau mengingatkan pembaca; dan bahasa figuratif yang paling dominan, yaitu gaya bahasa parafrase. Dari segi etnopedagogik ditemukan 71 karakter yang merujuk pada nilai pendidikan karakter budaya dan bangsa yang berdasar pada Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional. Penelitian ini bisa menambah wawasan tentang unsur puisi dalam tembang Cianjuran serta timbulnya rasa bangga dari masyarakat terhadap tembang Cianjuran.