Film merupakan salah satu media pembelajaran sejarah yang potensial untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, namun juga menyimpan risiko propaganda dan bias historiografi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan mahasiswa Pendidikan Sejarah dalam mengidentifikasi nilai-nilai historis, membedakan fakta dan dramatisasi, serta menunjukkan kesadaran kritis terhadap bias dalam film Pengkhianatan G30S/PKI. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan 16 responden dari kelas A stambuk 2024 Universitas Negeri Medan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terbuka dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) mahasiswa mampu mengidentifikasi nilai-nilai sejarah seperti nasionalisme, persatuan bangsa, dan pentingnya berpikir kritis, meskipun dengan kedalaman analisis yang bervariasi; (2) sebagian besar mahasiswa dapat membedakan representasi artistik dan fakta sejarah, khususnya pada adegan penyiksaan di Lubang Buaya; (3) seluruh responden menunjukkan kesadaran bahwa film dibuat dari sudut pandang Orde Baru dan mengandung propaganda; (4) kemampuan verifikasi fakta bervariasi, dengan beberapa mahasiswa mampu merujuk pada sumber akademis spesifik; (5) mahasiswa menyadari perspektif penting yang absen dari film, termasuk konflik internal militer dan kekerasan massal pasca-G30S; dan (6) proses berpikir kritis mahasiswa meningkat setelah menonton film ketika didukung dengan akses ke sumber-sumber pembanding. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan film dalam pembelajaran sejarah perlu disertai dengan panduan analisis kritis yang terstruktur agar efektif mengembangkan literasi historiografi dan media literacy mahasiswa.