Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana personal branding yang dibangun oleh Topik Sudirman berperan sebagai katalis dalam membentuk dan mempertahankan gerakan sosial inklusif Gendut Berlari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam. Sumber data terdiri atas satu informan utama, yaitu pendiri gerakan, serta empat informan pendukung yang merupakan anggota gerakan, yang dilengkapi dengan literatur ilmiah nasional dan internasional serta data dari sumber kredibel. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding Topik Sudirman dibangun melalui narasi autentik berupa pengalaman pribadi sebagai penyandang tubuh besar yang pernah mengalami stigma dan body shaming, bukan melalui strategi pemasaran yang dirancang sejak awal. Keterbukaan dalam membagikan proses, bukan hanya hasil, menumbuhkan kepercayaan dan ikatan parasosial yang kuat dengan audiens, yang kemudian mendorong sebagian besar dari mereka untuk bergabung dalam gerakan Gendut Berlari. Nilai inklusivitas yang diusung melalui prinsip “no one left behind” menjadi pembeda utama dibandingkan komunitas olahraga lain, sehingga personal branding individu berhasil bertransformasi menjadi identitas kolektif sebuah gerakan sosial yang memberi ruang aman bagi kelompok bertubuh besar untuk hidup lebih sehat tanpa rasa takut dinilai. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian personal branding yang tidak hanya berhenti pada level individu, tetapi meluas pada pembentukan gerakan sosial berbasis komunitas.