Mujiyono Mujiyono
UIN Walisongo Semarang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

The Rewanda Offering Tradition: An Islamic environmental ethics perspective Oktavia Nur Fadhilla; Khoirul Anwar; Mujiyono Mujiyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 28, No 1 (2026): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v28i1.40827

Abstract

This study examines the symbolic meanings and environmental ethical dimensions embedded in the Sesaji Rewanda tradition practiced at Kreo Cave. Previous studies on the Sesaji Rewanda tradition have mainly focused on symbolic meanings and cultural tourism, with limited attention to local communities’ experiences and perspectives. However, the tradition represents a cultural ritual associated with respect for the monkeys inhabiting the area and forms part of the historical memory preserved by the local community. This research employs a qualitative ethnographic approach to understand the cultural practices and meanings constructed by the community in performing the ritual. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews with community leaders, local vendors, and tourism managers, as well as documentation of symbolic practices throughout the Sesaji Rewanda procession. The data were analyzed interpretatively through data reduction, thematic categorization, and meaning interpretation by integrating perspectives from cultural anthropology and Islamic environmental ethics. The findings reveal that the Sesaji Rewanda tradition reflects a symbolic relationship between humans, nature, and religious values that fosters ecological awareness within the community. In addition, the tradition strengthens social solidarity while supporting local economic activities surrounding the Kreo Cave tourism area. These findings indicate that local cultural practices can serve as cultural mechanisms linking environmental conservation, cultural identity, and community social life. Therefore, stakeholders should promote sustainable ecotourism at Kreo Cave through environmental conservation, regulated tourism, community participation, Islamic ecological ethics, and equitable economic benefits. Collaborative efforts among governments, communities, religious leaders, academics, and tourism managers are essential to preserving cultural and ecological sustainability.Penelitian ini mengkaji makna simbolik dan dimensi etika lingkungan yang terkandung dalam tradisi Sesaji Rewanda yang dipraktikkan di Kreo Cave. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai tradisi Sesaji Rewanda umumnya berfokus pada makna simbolik dan pariwisata budaya, dengan perhatian yang masih terbatas terhadap pengalaman dan perspektif masyarakat lokal. Namun demikian, tradisi ini merupakan ritual budaya yang berkaitan dengan penghormatan terhadap monyet-monyet yang mendiami kawasan tersebut serta menjadi bagian dari memori historis yang dijaga oleh masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi kualitatif untuk memahami praktik budaya dan makna yang dibangun masyarakat dalam pelaksanaan ritual tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pedagang lokal, dan pengelola wisata, serta dokumentasi praktik-praktik simbolik selama prosesi Sesaji Rewanda berlangsung. Data dianalisis secara interpretatif melalui reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi makna dengan mengintegrasikan perspektif antropologi budaya dan etika lingkungan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sesaji Rewanda merefleksikan hubungan simbolik antara manusia, alam, dan nilai-nilai keagamaan yang menumbuhkan kesadaran ekologis dalam masyarakat. Selain itu, tradisi ini memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata Goa Kreo. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik budaya lokal dapat berfungsi sebagai mekanisme budaya yang menghubungkan konservasi lingkungan, identitas budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan perlu mendorong pengembangan ekowisata berkelanjutan di Goa Kreo melalui konservasi lingkungan, pengelolaan wisata yang teratur, partisipasi masyarakat, penerapan etika ekologi Islam, dan distribusi manfaat ekonomi yang adil. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, tokoh agama, akademisi, dan pengelola wisata sangat penting untuk menjaga keberlanjutan budaya dan ekologi.