Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Profil Nilai C-Reactive Protein (CRP) pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Tuberkulosis Ekstra Paru di RSUD Waled Nova Nova; Isti Noviani; Dwi Rosa Eka Agustina
EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies Vol. 6 No. 2 (2026): EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/edu.v6i2.11901

Abstract

Tuberculosis is a chronic infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Based on the infected organ, tuberculosis is divided into extra-pulmonary tuberculosis and pulmonary tuberculosis (TB). C-Reactive Protein (CRP) is a protein found in the blood that increases in response to inflammation. CRP can be used as a marker of tuberculosis activity and severity and can predict the course of the disease. To determine profile of c-reactive protein (crp) values in tb & ekstrapulmonary tb patients at rsud waled. This observational study used a cross sectional design. Samples were taken from medical records using a Total Sampling within 100 patients. The research conducted at Waled hospital in June 2024. The resulted showed that the majority of CRP levels increased in 44 pulmonary TB patients (48.9%) and 8 extrapulmonary TB patients (80%). CRP levels increased in 24 adult pulmonary TB patients (26.7%), 20 elderly pulmonary TB patients (22.2%), while in adult and elderly extrapulmonary TB patients there were 4 people each (40%). CRP levels increased in 27 male pulmonary TB patients (30%), 17 female pulmonary TB patients (19%), while in 5 male extrapulmonary TB patients (50%) and 3 female patients (30%). C-Reactive protein level of pulmonary TB higher than extra pulmonary TB.
Tamponade Jantung sebagai Komplikasi Efusi Perikardium akibat Tuberkulosis: Laporan Kasus Ananda Liza Putri Sarah; Dwi Rosa Eka Agustina; Wahyudi Wahyudi; Rini Istisakinah; Rendi Agustian
Jurnal Global Ilmiah Vol. 3 No. 12 (2026): Jurnal Global Ilmiah
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/jgi.v3i12.421

Abstract

Perikarditis tuberkulosa merupakan tuberkulosis ekstraparu yang cukup jarang ditemukan dan berpotensi menimbulkan komplikasi fatal seperti tamponade jantung. Keterlambatan dalam penegakan diagnosis secara signifikan meningkatkan morbiditas dan mortalitas, terutama di negara dengan beban TB tinggi seperti Indonesia. Seorang pria usia 59 tahun datang dengan sesak napas progresif disertai batuk berdahak, demam satu bulan, dan penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan tekanan vena jugularis dan bunyi jantung melemah. Foto toraks menunjukkan kardiomegali dan efusi pleura kiri. Cairan pleura hasil pungsi bersifat eksudatif limfositik (Rivalta positif, protein 5,3 g/dL, LDH 2407 U/L) dengan GeneXpert positif Mycobacterium tuberculosis. Ekokardiografi menunjukkan efusi perikardial masif dengan swinging heart dan tanda tamponade. Pasien menjalani Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) perikardiotomi dengan hasil histopatologi mendukung tuberkulosis. Terapi OAT diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan. Gejala perikarditis TB sering tidak spesifik dan penegakan diagnosisnya memerlukan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Efusi perikardial masif dengan tanda klinis tamponade jantung merupakan kondisi emergensi yang membutuhkan intervensi segera. Diagnosis definitif dapat dibantu oleh analisis cairan perikardial, termasuk profil biokimia, ADA, dan pemeriksaan molekuler. GeneXpert pada cairan pleura terbukti sangat membantu dalam konfirmasi etiologi TB secara cepat. VATS perikardiotomi menjadi pilihan ideal untuk dekompresi sekaligus diagnostik, dengan tingkat keamanan dan efektivitas yang baik. Penatalaksanaan dengan OAT kategori 1 penting untuk mencegah komplikasi seperti konstriksi perikardium. Perikarditis tuberkulosa dengan tamponade jantung merupakan kondisi kritis yang membutuhkan diagnosis cepat dan penanganan agresif. Integrasi evaluasi klinis, imaging, dan diagnostik molekuler sangat penting dalam menentukan diagnosis dan tatalaksana. Pendekatan multidisiplin yang kolaboratif dapat memperbaiki luaran klinis pasien.