Perikarditis tuberkulosa merupakan tuberkulosis ekstraparu yang cukup jarang ditemukan dan berpotensi menimbulkan komplikasi fatal seperti tamponade jantung. Keterlambatan dalam penegakan diagnosis secara signifikan meningkatkan morbiditas dan mortalitas, terutama di negara dengan beban TB tinggi seperti Indonesia. Seorang pria usia 59 tahun datang dengan sesak napas progresif disertai batuk berdahak, demam satu bulan, dan penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan tekanan vena jugularis dan bunyi jantung melemah. Foto toraks menunjukkan kardiomegali dan efusi pleura kiri. Cairan pleura hasil pungsi bersifat eksudatif limfositik (Rivalta positif, protein 5,3 g/dL, LDH 2407 U/L) dengan GeneXpert positif Mycobacterium tuberculosis. Ekokardiografi menunjukkan efusi perikardial masif dengan swinging heart dan tanda tamponade. Pasien menjalani Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) perikardiotomi dengan hasil histopatologi mendukung tuberkulosis. Terapi OAT diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan. Gejala perikarditis TB sering tidak spesifik dan penegakan diagnosisnya memerlukan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Efusi perikardial masif dengan tanda klinis tamponade jantung merupakan kondisi emergensi yang membutuhkan intervensi segera. Diagnosis definitif dapat dibantu oleh analisis cairan perikardial, termasuk profil biokimia, ADA, dan pemeriksaan molekuler. GeneXpert pada cairan pleura terbukti sangat membantu dalam konfirmasi etiologi TB secara cepat. VATS perikardiotomi menjadi pilihan ideal untuk dekompresi sekaligus diagnostik, dengan tingkat keamanan dan efektivitas yang baik. Penatalaksanaan dengan OAT kategori 1 penting untuk mencegah komplikasi seperti konstriksi perikardium. Perikarditis tuberkulosa dengan tamponade jantung merupakan kondisi kritis yang membutuhkan diagnosis cepat dan penanganan agresif. Integrasi evaluasi klinis, imaging, dan diagnostik molekuler sangat penting dalam menentukan diagnosis dan tatalaksana. Pendekatan multidisiplin yang kolaboratif dapat memperbaiki luaran klinis pasien.