Mersi Langga
STT Injili Indonesia Kupang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hamba Setia dan Bijaksana: Teologi Lukas Tentang Spiritualitas Integritas dan Kesetiaan Eskatologis Pastoral Yeremia Priyanto; Mersi Langga
SKENOO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55649/64m3ny05

Abstract

Fenomena keletihan rohani, penipisan integritas pelayanan, dan tekanan visibilitas publik dalam gereja kontemporer menegaskan pentingnya spiritualitas pastoral yang berakar pada eskatologi Injil. Studi ini menelaah Lukas 12:42–43 dengan pendekatan eksegesis gramatikal-historis dan analisis naratif untuk memahami figur “hamba yang setia dan bijaksana” sebagai paradigma kesetiaan pastoral. Istilah pistos, oikonomos, phronimos, dan en kairo dianalisis dalam terang penghakiman Kristus dan amanat penggembalaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesetiaan pastoral merupakan habitus eskatologis yang terwujud dalam tiga pilar utama, yaitu: integritas tersembunyi, yaitu kesetiaan di hadapan Allah melampaui pencitraan publik; tanggung jawab relasional sebagai pengelola amanah; dan ketahanan praksis dalam menjalankan tugas secara konsisten di tengah tekanan. Dengan demikian, kesetiaan pastoral tidak diukur oleh performativitas religius, melainkan oleh ketaatan yang berakar pada pengharapan eskatologis, serta membentuk pelayan yang berintegritas, bertanggung jawab, dan tekun di hadapan Tuhan. 
Perempuan dalam Pelayanan Gereja: Reinterpretasi 1 Korintus 14:34-35 dan 1 Timotius 2:11-12 Mersi Langga
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 11 No. 1 (2026): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2026.111.1467

Abstract

AbstractThe role of women is often debated in the context of the church. The texts of 1 Corinthians 14:34-35 and 1 Timothy 2:11-12 are usually used to limit the role of women. This issue creates tension between church traditions and the need to accommodate women’s roles in ministry. This article aims to reinterpret the two texts by emphasizing that a correct understanding of the context can provide another perspective on interpreting the text. This article analyzes the words and phrases in the text to explore the meaning and consider the historical and cultural meanings in which both texts were written. Through an analysis of the text, this article shows that the prohibitions in the two texts are not universal and absolute but are influenced by the specific situation in the Corinthians and Ephesians. This article seeks to interpret these texts and calls on churches to evaluate their understanding of women’s roles and encourage inclusivity and recognition of women’s leadership in ministry. This reinterpretation is expected to open a more constructive dialogue on gender equality in the church context. AbstrakPeran perempuan sering kali diperdebatkan dalam konteks gereja. Teks 1 Korintus 14:34-35 dan 1 Timotius 2:11-12 sering digunakan untuk membatasi peran perempuan. Masalah ini menciptakan ketegangan antara tradisi gereja dan kebutuhan untuk mengakomodasi peran perempuan dalam pelayanan. Artikel ini bertujuan untuk melakukan reinterpretasi terhadap kedua teks tersebut dengan menekankan bahwa pemahaman yang benar tentang konteks tersebut dapat memberikan perspektif lain atas interpretasi teks tersebut. Dengan menggunakan analisis teks, artikel ini menganalisis kata-kata dan frasa dalam teks untuk menggali makna serta  mempertimbangkan makna historis dan budaya di mana kedua teks ditulis. Melalui analisis teks, artikel ini menunjukkan bahwa larangan yang terdapat dalam kedua teks tersebut tidak bersifat universal dan mutlak, melainkan dipengaruhi oleh situasi spesifik di jemaat Korintus dan Efesus. Artikel ini berusaha menafsirkan teks-teks tersebut dan menyerukan gereja untuk mengevaluasi pemahaman tentang peran perempuan, serta mendorong inklusivitas dan pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan dalam pelayanan. Reinterpretasi ini diharapkan dapat membuka dialog yang lebih konstruktif mengenai kesetaraan gender dalam konteks gereja.