Fadlan Kamali Batubara
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Teologis Rasional Mu’tazilah Terhadap Sifat-Sifat Tuhan dan Implikasinya Bagi Pemahaman Makhluk Fadlan Kamali Batubara; Baginda Ahmad Sakti Nasution; Mhd Abdul Satria Wibowo; Sakieb Annisa Sitakar; Rosmannur; Zahrah Nabiilah Putri
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8686

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi teologi rasional aliran Mu’tazilah mengenai konsepsi sifat-sifat Tuhan (sifatullah) serta implikasinya terhadap eksistensi dan kedudukan makhluk (manusia). Sebagai aliran yang menempatkan akal (al-aql) sebagai salah satu sumber epistemologi utama dalam berakidah, Mu’tazilah merumuskan konsep penafian sifat (nafy as-sifat) untuk menjaga kemurnian tauhid dari jebakan antropomorfisme (tasybih) dan pluralitas ketuhanan (ta’addud al-qudama’). Melalui metode deskriptif-analitis dan pendekatan studi kepustakaan (library research), penelitian ini menemukan bahwa pemisahan sifat dari Dzat menurut Mu’tazilah dipandang dapat merusak keesaan mutlak Tuhan, oleh karena itu, Sifat Allah adalah Dzat-Nya itu sendiri. Implikasi logis dari teologi transenden ini memosisikan manusia sebagai makhluk yang mandiri, memiliki kebebasan berkehendak (free will/hurriyyah al-iradah), dan bertanggung jawab penuh atas perbuatannya (af’al al-ibad). Prinsip keadilan Tuhan (al-‘adl) meniscayakan adanya otonomi moral pada manusia, yang pada gilirannya meninggikan martabat rasionalitas dan eksistensi makhluk dalam kosmos.
History Munculnya Persoalan Teologi Islam dari Zaman Kerasulan Hingga Era Globalisasi Fadlan Kamali Batubara; Muhammad Naufal Alif Nasution; Muhamad Habibi; Rasya Aditya Armansyah; Raisya Syakira Khair Purba; Mutia Rahmah; Lailatul Husna
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8701

Abstract

Teologi Islam merupakan cabang ilmu yang membahas persoalan ketuhanan, keimanan, dan berbagai ajaran dasar dalam Islam yang berkembang melalui disiplin ilmu kalam. Kemunculan persoalan teologi dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama terkait persoalan kepemimpinan umat Islam. Konflik politik seperti Perang Jamal, Perang Shiffin, dan peristiwa tahkim menjadi titik awal lahirnya berbagai aliran teologi seperti Syi‟ah, Khawarij, Murji‟ah. Perbedaan pandangan yang awalnya bersifat politik kemudian berkembang menjadi perdebatan teologis mengenai konsep iman, dosa besar, kehendak Tuhan, kebebasan manusia, serta hubungan antara akal dan wahyu. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan data dari buku, artikel, dan jurnal yang relevan mengenai sejarah perkembangan teologi Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkembangan aliran-aliran teologi Islam dipengaruhi oleh faktor politik, sosial, budaya, dan interaksi umat Islam dengan tradisi intelektual luar seperti filsafat Yunani dan pemikiran Barat. Selain itu, perkembangan ilmu kalam juga menjadi sarana untuk mempertahankan dan menjelaskan ajaran Islam secara rasional di tengah tantangan zaman. Pada era globalisasi, teologi Islam menghadapi tantangan baru berupa berkembangnya paham materialisme, atheisme, dan pluralisme agama yang memengaruhi pola pikir masyarakat modern. Oleh karena itu, pemahaman teologi yang kuat, moderat, dan berlandaskan Al-Qur‟an serta Sunnah menjadi sangat penting agar umat Islam mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai akidah dan identitas keislamannya.
INDIKASI TEOLOGI MURJI’AH DALAM KONSEP NASIONALISME HUBUNGANNYA DENGAN AGAMAIS ERA MODARISME Fadlan Kamali Batubara; Hariansyah Hariansyah; Helmi Afif Eren; Dwi Arini; Intan Rusniyati Tanjung; Wulan Safitri Simbolon
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15988

Abstract

ABSTRAK Aliran Murji’ah muncul berawal dari persoalan politik kemudian berkembang menjadi persoalan teologi. Aliran teologi ini netral dan memberi pengharapan terhadap pelaku dosa besar. Penamaan Murji’ah terkandung makna yang tersirat bahwa ajaran teoelogi ini menomor duakan amal perbuatan dari pada iman. Murji’ah dapat juga berarti; menta’khirkan penentuan sikap yang benar atau siapa yang salah dalam suatu pertikaian waktu antara Ali, Muawiyah, dan Khawarij. Menta’khirkan penentuan orang-orang yang dianggap telah berdosa apakah akan masuk neraka atau masuk surga. Kemudian juga menta’khirkan posisi Ali dalam komposisi kekhalifahan yang mengandung konsekuensi menta’khirkan derajat Ali setelah Abu Bakar, Umar dan Usman. Dalam aspek politik walaupun tidak spektakuler tetapi nampaknya juga melahirkan tipologi perilaku politiknya yang unik yang memunculkan juga pendapat beragam, dari tipe yang pasif, ada pula nampaknya perilaku adaptif diikuti dengan sikap feksibilitas dan loyalitas yang tentu tidak semuanya terekam dalam sejarah.
REAKTUALISASI PEMIKIRAN QADARIYAH DAN JABARIYAH TENTANG ILAHIYYAH DI ZAMAN DIGITAL Fadlan Kamali Batubara; Rafly Ahmad; Lola Sischa Savilta; ⁠Yafizham Situmorang; ⁠Fadilah Sari; ⁠ ⁠Robiatul Adawiyah
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.16855

Abstract

The development of the digital era has brought significant changes to the way people understand, disseminate, and reconstruct religious thought. In this context, the concept of ilahiyyah in classical Islamic theology, particularly within the Qadariyah and Jabariyah schools of thought, has regained scholarly attention due to its relevance to issues of human freedom, divine will, and moral responsibility amid technological advancement. This study aims to analyze the reactualization of the concept of ilahiyyah in Qadariyah and Jabariyah thought in the digital era and to examine its relevance to the challenges of modern life.This research employs a qualitative method with a library research approach through the examination of various sources discussing Islamic theology, the development of Qadariyah and Jabariyah thought, and the dynamics of digital society. The findings indicate that the concept of human freedom advocated by Qadariyah is relevant to fostering individual responsibility in the use of technology and information, while the concept of divine determination emphasized by Jabariyah provides a perspective on human limitations in the face of increasingly complex digital developments. The reactualization of these two theological perspectives is necessary to establish a balance between freedom, responsibility, and spiritual awareness, thereby ensuring that ilahiyyah values continue to serve as guiding principles in navigating digital transformation. Therefore, classical theological thought possesses not only historical significance but also the potential to contribute to a contextual understanding of religion in the digital age.