Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi teologi rasional aliran Mu’tazilah mengenai konsepsi sifat-sifat Tuhan (sifatullah) serta implikasinya terhadap eksistensi dan kedudukan makhluk (manusia). Sebagai aliran yang menempatkan akal (al-aql) sebagai salah satu sumber epistemologi utama dalam berakidah, Mu’tazilah merumuskan konsep penafian sifat (nafy as-sifat) untuk menjaga kemurnian tauhid dari jebakan antropomorfisme (tasybih) dan pluralitas ketuhanan (ta’addud al-qudama’). Melalui metode deskriptif-analitis dan pendekatan studi kepustakaan (library research), penelitian ini menemukan bahwa pemisahan sifat dari Dzat menurut Mu’tazilah dipandang dapat merusak keesaan mutlak Tuhan, oleh karena itu, Sifat Allah adalah Dzat-Nya itu sendiri. Implikasi logis dari teologi transenden ini memosisikan manusia sebagai makhluk yang mandiri, memiliki kebebasan berkehendak (free will/hurriyyah al-iradah), dan bertanggung jawab penuh atas perbuatannya (af’al al-ibad). Prinsip keadilan Tuhan (al-‘adl) meniscayakan adanya otonomi moral pada manusia, yang pada gilirannya meninggikan martabat rasionalitas dan eksistensi makhluk dalam kosmos.
Copyrights © 2026