This Author published in this journals
All Journal Cakrawala Linguista
Andi Annisa Septiani
Universitas PGRI Pontianak

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Suara yang Dibungkam dan Pergulatan Identitas dalam Novel Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer : Kajian Poskolonial Andi Annisa Septiani; Herlina Herlina
CAKRAWALA LINGUISTA Vol 9, No 1 (2026): VOLUME 9, NUMBER 1 July 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/cling.v9i1.8438

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembungkaman suara dan pergulatan identitas dalam novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer melalui kajian poskolonial. Fokus penelitian diarahkan pada cara sistem kolonial Hindia Belanda membungkam suara pribumi serta membentuk identitas subjek terjajah, khususnya melalui pengalaman tokoh Nyai Ontosoroh dan Minke. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan novel Anak Semua Bangsa sebagai sumber data primer, serta buku teori dan artikel ilmiah sebagai sumber data sekunder. Analisis data dilakukan melalui penelusuran mendalam terhadap teks, identifikasi bentuk pembungkaman suara dan perjuangan identitas, serta interpretasi data menggunakan pemikiran poskolonial Frantz Fanon, Gayatri Chakravorty Spivak, dan konsep kesadaran ganda WEB Du Bois. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembungkaman suara pada novel tidak berlangsung secara langsung, melainkan bekerja melalui struktur hukum, sosial, dan budaya kolonial yang meniadakan legitimasi suara pribumi, terutama perempuan. Selain itu, novel ini merepresentasikan perjuangan identitas tokoh melalui kesadaran kritis, pendidikan, dan tulisan sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial. Temuan ini menegaskan bahwa Anak Semua Bangsa tidak hanya mencerminkan realitas kolonial, tetapi juga berfungsi sebagai teks kritis yang merefleksikan warisan kolonial dalam kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.