Nufasilul Ayati
Universitas Darul Ma'arif, Indramayu, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Islam and Digital Ethics: The Moral Challenges of Generation Z in the Era of Digital Transformation Muhammad Saefuddin; Nufasilul Ayati; Irvan Wahyu Purnomo; Nafisa Tarish Nur Rohim
Lentera Peradaban: Journal on Islamic Studies Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/lpi.v2i2.142

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis berbagai tantangan moral yang dihadapi Generasi Z dalam ruang digital serta mengkaji relevansi nilai-nilai Islam sebagai landasan etika digital. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka sistematis (systematic literature review), penelitian ini menghimpun dan menganalisis literatur ilmiah dari berbagai sumber bereputasi yang terbit antara 2015-2025. Temuan menunjukkan bahwa Generasi Z Muslim di Indonesia menghadapi empat bentuk degradasi etika digital utama: penyebaran hoaks dan disinformasi, cyberbullying dan ujaran kebencian, paparan pornografi digital, serta budaya validasi sosial dan pencitraan diri berlebihan. Nilai-nilai Islam seperti tabayyun, amanah, iffah, dan muhasabah terbukti relevan sebagai kerangka etika digital yang mampu menjawab tantangan tersebut. Implikasi penelitian ini mencakup pengembangan model penguatan etika digital berbasis Islam melalui sinergi antara keluarga, institusi pendidikan, komunitas keislaman, dan kebijakan publik. Penelitian ini berkontribusi memperluas kajian etika digital melalui perspektif Islam sekaligus memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan literasi digital berorientasi pembentukan karakter generasi muda.
Istiqomah Sebagai Pilar Aktivisme Sosial: Kajian Literatur Tentang Keteguhan Moral, Resiliensi, Dan Keberlanjutan Gerakan Ahmad Mulyadi; Muhammad Saefuddin; Nufasilul Ayati
Lentera Peradaban: Journal on Islamic Studies Vol. 2 No. 3 (2026)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/lpi.v2i3.152

Abstract

Aktivisme sosial kerap dihadapkan pada tantangan struktural, kelesuan partisipasi, dan risiko kelelahan psikologis di kalangan pelakunya. Artikel ini mengkaji konsep istiqomah—keteguhan, konsistensi, dan komitmen yang tidak mudah goyah, berakar dalam ajaran Islam sebagai kerangka etis-spiritual yang berpotensi menopang keberlanjutan aktivisme sosial. Kajian menggunakan pendekatan tinjauan literatur naratif bertipe semi-sistematis, dengan prosedur pencarian pada basis data Google Scholar, Garuda, dan Moraref menggunakan kata kunci “istiqomah/istiqamah”, “aktivisme sosial”, dan “keberlanjutan gerakan sosial”, yang disaring berdasarkan kejelasan metadata dan relevansi tematik. Penelusuran menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap): literatur istiqomah umumnya berkembang dalam ranah pendidikan karakter dan tafsir Al-Qur’an, sementara literatur aktivisme sosial jarang mengintegrasikannya secara sistematis sebagai kerangka keberlanjutan gerakan. Artikel ini mensintesiskan lima dimensi istiqomah—keteguhan niat, konsistensi tindakan, kesabaran dan resiliensi, integritas, serta kohesi sebagai kerangka konseptual utama, dan menganalisisnya melalui teori konstruksi sosial untuk menjelaskan bagaimana istiqomah individual dapat terinternalisasi menjadi norma kolektif gerakan. Artikel ini juga menegaskan pembedaan konseptual antara aktivisme sosial, aktivisme politik, dan Islamisme, yang kerap tumpang tindih dalam literatur populer. Kelima dimensi istiqomah secara konseptual relevan untuk menopang daya tahan aktivis, namun klaim bahwa istiqomah “mencegah” burnout masih bersifat hipotesis, mengingat penelitian empiris tentang burnout aktivis menunjukkan bahwa budaya organisasi dan dukungan komunitas bukan semata konstruk spiritual individual berperan besar terhadap kerentanan burnout. Studi ini bersifat konseptual dan belum diuji secara empiris; kontribusi utamanya adalah kerangka sintesis yang dapat menjadi dasar penelitian lapangan selanjutnya.
Upholding Social Justice in the Modern Workplace: Integrating the Values of ‘Adl, Amanah, and Ihsan from the Perspective of Islamic Ethics Nufasilul Ayati; Ramayoga Suria Alfarizi Yoga; Siti Amalia
Lentera Peradaban: Journal on Islamic Studies Vol. 2 No. 3 (2026)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/lpi.v2i3.155

Abstract

This study examines social justice in the workplace from the perspective of Islamic ethics, focusing on how the values of 'adl (justice), amanah (trustworthiness), and ihsan (moral excellence) can be conceptually distinguished while being integrated as the foundation of workers' rights. The purpose of this study is to analyze the principles of Islamic social justice and formulate strategies for their application in human resource management. The method used is a descriptive-qualitative library research design on 20 primary and secondary sources including the Qur'an, tafsir studies, and accredited journal articles from 2011-2024 selected based on thematic relevance and publisher credibility, then analyzed using content-analysis techniques. The main findings show that social justice remains unrealized in many workplaces, marked by discrimination, wage inequality, and weak worker protection, while 'adl, amanah, and ihsan are theoretically shown to foster intrinsic motivation, job satisfaction, and reduced counterproductive behavior. The implication is the need to integrate maqashid al-shariah principles into recruitment, evaluation, and compensation policy, supported by leadership grounded in shiddiq, amanah, fathanah, and tabligh. The study's originality lies in explicitly differentiating 'adl, amanah, and ihsan and linking them directly to contemporary workers' rights, an emphasis rarely made explicit in prior studies on Islamic work ethics.