Aktivisme sosial kerap dihadapkan pada tantangan struktural, kelesuan partisipasi, dan risiko kelelahan psikologis di kalangan pelakunya. Artikel ini mengkaji konsep istiqomah—keteguhan, konsistensi, dan komitmen yang tidak mudah goyah, berakar dalam ajaran Islam sebagai kerangka etis-spiritual yang berpotensi menopang keberlanjutan aktivisme sosial. Kajian menggunakan pendekatan tinjauan literatur naratif bertipe semi-sistematis, dengan prosedur pencarian pada basis data Google Scholar, Garuda, dan Moraref menggunakan kata kunci “istiqomah/istiqamah”, “aktivisme sosial”, dan “keberlanjutan gerakan sosial”, yang disaring berdasarkan kejelasan metadata dan relevansi tematik. Penelusuran menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap): literatur istiqomah umumnya berkembang dalam ranah pendidikan karakter dan tafsir Al-Qur’an, sementara literatur aktivisme sosial jarang mengintegrasikannya secara sistematis sebagai kerangka keberlanjutan gerakan. Artikel ini mensintesiskan lima dimensi istiqomah—keteguhan niat, konsistensi tindakan, kesabaran dan resiliensi, integritas, serta kohesi sebagai kerangka konseptual utama, dan menganalisisnya melalui teori konstruksi sosial untuk menjelaskan bagaimana istiqomah individual dapat terinternalisasi menjadi norma kolektif gerakan. Artikel ini juga menegaskan pembedaan konseptual antara aktivisme sosial, aktivisme politik, dan Islamisme, yang kerap tumpang tindih dalam literatur populer. Kelima dimensi istiqomah secara konseptual relevan untuk menopang daya tahan aktivis, namun klaim bahwa istiqomah “mencegah” burnout masih bersifat hipotesis, mengingat penelitian empiris tentang burnout aktivis menunjukkan bahwa budaya organisasi dan dukungan komunitas bukan semata konstruk spiritual individual berperan besar terhadap kerentanan burnout. Studi ini bersifat konseptual dan belum diuji secara empiris; kontribusi utamanya adalah kerangka sintesis yang dapat menjadi dasar penelitian lapangan selanjutnya.