Pelayanan kesehatan menuntut dokter tidak hanya memiliki kompetensi medis yang memadai, tetapi juga mampu menerapkan komunikasi terapeutik secara efektif guna membangun kepercayaan, meningkatkan kepuasan pasien, serta mendukung keberhasilan pengobatan. Namun, beban kerja yang tinggi dapat menjadi hambatan bagi dokter dalam melaksanakan komunikasi terapeutik secara optimal selama proses pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan komunikasi terapeutik pada dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Pasaman Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling yang melibatkan 39 dokter. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala beban kerja dan skala komunikasi terapeutik. Data dianalisis menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment.Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara beban kerja dengan komunikasi terapeutik pada dokter (r = -0,581; p < 0,01). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat beban kerja, maka semakin rendah komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh dokter. Beban kerja memberikan kontribusi sebesar 33,8% terhadap komunikasi terapeutik, sedangkan sisanya sebesar 66,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja dalam meningkatkan komunikasi terapeutik serta kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit