Rifma Ghulam Dzaljad
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HIBRIDITAS FASHION MUSLIMAH INDONESIA DALAM PERSPEKTIF POSTKOLONIALISME: STUDI KASUS #MAKEABAYAGREATAGAIN Deandra Yovansyah; Nadiah Inda Adwa; Rifma Ghulam Dzaljad
Jurnal Reflektif Vol 2 No 4 (2026): Reflektif: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Publisher : YAYASAN PADHANG MANAH SIBYAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena hibriditas fashion Muslimah Indonesia dalam tren #MakeABayaGreatAgain melalui perspektif postkolonialisme. Perkembangan media sosial dan budaya digital telah mengubah fashion Muslimah tidak hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai representasi identitas, gaya hidup, dan budaya populer perempuan Muslim modern. Tren penggunaan abaya yang sebelumnya identik dengan budaya Timur Tengah kini mengalami transformasi makna melalui perpaduan dengan unsur fashion global dan budaya lokal Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk hibriditas budaya dalam tren #MakeABayaGreatAgain serta memahami bagaimana identitas perempuan Muslim modern dikonstruksi melalui media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi digital pada platform Instagram, dokumentasi unggahan media sosial, serta studi pustaka terkait fashion Muslimah, budaya digital, dan postkolonialisme. Analisis penelitian menggunakan konsep hibriditas budaya dari Homi K. Bhabha untuk melihat proses negosiasi identitas yang terjadi dalam fashion Muslimah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren #MakeABayaGreatAgain merepresentasikan percampuran budaya Arab, budaya lokal Indonesia, dan budaya populer global yang menghasilkan identitas baru perempuan Muslim modern. Media sosial berperan sebagai ruang produksi budaya yang membentuk standar estetika Muslimah kontemporer melalui visual fashion yang modern, minimalis, dan estetik. Selain itu, fenomena ini juga memunculkan pro dan kontra terkait makna religiusitas dan komodifikasi fashion Muslimah dalam budaya digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fashion Muslimah digital bukan sekadar tren berpakaian, tetapi menjadi arena negosiasi identitas budaya perempuan Muslim Indonesia dalam masyarakat postkolonial kontemporer.
RELASI KUASA DAN KEHENINGAN INSTITUSIONAL: ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN CNN INDONESIA DAN KOMPAS.COM TENTANG KEKERASAN SEKSUAL DI PONDOK PESANTREN NDHOLO KUSUMO, PATI, DALAM PERSPEKTIF TEORI KRITIS ANTONIO GRAMSCI Muhammad Nur Faza; Farhan Refas Alfiansyah; Rifma Ghulam Dzaljad
Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah Vol. 2 No. 7 (2026): Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah (Juli 2026)
Publisher : PT. Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/ar-rasyid.v2i7.430

Abstract

This article analyzes sexual violence at Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Pati, Central Java, through a framing analysis of two national news reports: CNN Indonesia (9 May 2026) and Kompas.com (29 June 2026), representing the moments of case disclosure and subsequent community backlash against the pesantren's closure. Using Entman's framing model and Critical Discourse Analysis (CDA), both reports are critiqued through Michel Foucault's power/knowledge theory and Antonio Gramsci's concept of hegemony. Findings show kiai authority operates productively in the Foucauldian sense through discipline and normalization, while CNN Indonesia's episodic-personal framing and Kompas.com's counter-narrative centered on parents both reproduce hegemony that protects the status quo. This article argues that institutional silence is neither natural nor resolved once disclosed, but a systemic power mechanism that continually mutates, dismantled only through structural and epistemic reform, including in how media frame such structural violence.