This Author published in this journals
All Journal Jurnal EMPATI
Salma Nadhira Rizqi
Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Surabaya, Jl. Lidah Wetan, Lidah Wetan, Kec. Lakarsantri, Surabaya city, East Java 60213

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN RELIGIUSITAS DAN DUKUNGAN SOSIAL SEBAGAI MEDIATOR DALAM RESILIENSI IBU ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS: SYSTEMATIC LITERATUR REVIEW Salma Nadhira Rizqi; Nanda Audia Vrisaba
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 15, Nomor 03, Tahun 2026 (Juni 2026)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2026.55275

Abstract

Mengasuh anak berkebutuhan khusus (ABK) memberikan tantangan psikososial signifikan bagi orang tua di Asia, di mana resiliensi sangat krusial. Religiusitas dan dukungan sosial diidentifikasi sebagai faktor protektif utama, namun pemahaman mengenai mekanisme (mediator) keduanya masih terbatas. Penelitian ini menganalisis bukti empiris mengenai peran religiusitas dan dukungan sosial (langsung maupun mediator) dalam resiliensi orang tua ABK di Asia. Systematic Literature Review (SLR) ini mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian di PubMed dan Scopus (2015-2025) menghasilkan 9 studi empiris yang disintesis secara naratif. Kriteria inklusi fokus pada resiliensi/koping orang tua ABK di Asia. Hasil analisis 9 studi menunjukkan gambaran kompleks. Religiusitas/Spiritualitas secara konsisten berfungsi sebagai mediator signifikan atau prediktor langsung yang kuat, seringkali meningkatkan penerimaan diri. Sebaliknya, peran dukungan sosial ambigu dan kontekstual. Beberapa studi (China, Indonesia) mengkonfirmasi perannya sebagai mediator, namun studi lain (juga Indonesia) menemukannya tidak signifikan. Kesimpulannya, religiusitas adalah mekanisme internal yang kuat dan konsisten untuk resiliensi. Peran dukungan sosial lebih kompleks, mungkin bergantung pada faktor budaya atau kualitas dukungan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi kesenjangan metodologis (dominasi cross-sectional) dan populasi (kurangnya fokus pada ayah).