Eko Teguh Pribadi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor Aktivitas Fisik, Asupan Protein, dan Keragaman Gizi dengan Status Gizi Remaja di Kabupaten Sidoarjo: Studi Cross-Sectional Hilma Nahlah Faradisah; Dwi Rukma Santi; Eko Teguh Pribadi
Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 16 No 2 (2026): Maret 2026
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33657/jurkessia.v16i2.1125

Abstract

Adolescents are an age group vulnerable.to nutritional problems due to changes in lifestyle, diet, and physical activity. This study analyzed the relationship between physical activity, protein intake, and nutritional diversity with the nutritional status of adolescents at SMA PGRI 1 Sidoarjo. The study design used a cross-sectional approach with 120 students as respondents. Data collection used a structured questionnaire and SQ-FFQ, while nutritional status was determined based on BMI. Data analysis was performed using the Spearman correlation test. The results showed that most adolescents had high physical activity (61.70%), adequate protein intake (47.50%), and diverse nutritional diversity (55.80%). The nutritional status of adolescents was mostly in the normal category (40.00%). The results of the Spearman correlation test showed that there was no relationship between physical activity and nutritional status (p value = 0.242; p > 0.05), there was a relationship between protein intake and nutritional status (p value = 0.024; p < 0.05), there was a relationship between nutritional diversity and nutritional status (p value = 0.000; p < 0.05). It can be concluded that the quality of food intake, especially protein and nutritional diversity in adolescent nutritional status is important.
Faktor Psikologis dan Sosial dalam Perilaku Penyalahgunaan NAPZA Ade Putri Mufidha; Fahmi Aufar Asyraf; Eko Teguh Pribadi
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 3: Oktober (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i3.3405

Abstract

Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) merupakan permasalahan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor psikologis dan sosial yang berperan dalam perilaku penyalahgunaan NAPZA serta memahami proses perubahan setelah individu menghentikan penggunaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Subjek penelitian terdiri dari dua laki-laki yang memiliki pengalaman penyalahgunaan NAPZA dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis data Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan kedua subjek dalam penyalahgunaan NAPZA dipengaruhi oleh kombinasi faktor psikologis, sosial, dan lingkungan dengan karakteristik yang berbeda. Pada Subjek 1, faktor yang menonjol meliputi keuntungan finansial, kebutuhan ekonomi, persepsi terhadap efek NAPZA, perubahan emosional, dan craving. Sementara itu, Subjek 2 lebih banyak dipengaruhi oleh rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, dan lingkungan sosial yang kurang sehat. Penggunaan NAPZA pada awalnya memberikan pengalaman yang dianggap menyenangkan atau menenangkan, tetapi kemudian diikuti kecemasan, ketidakstabilan emosi, dan kesulitan mengendalikan diri. Kesadaran terhadap dampak fisik dan hukum, dukungan keluarga, rehabilitasi, serta aktivitas spiritual berperan dalam mendorong proses penghentian penggunaan dan perubahan orientasi masa depan. Temuan ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan NAPZA merupakan fenomena multidimensional yang tidak hanya berkaitan dengan kondisi individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan dukungan yang tersedia. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pemulihan perlu dilakukan secara komprehensif melalui dukungan psikologis, keluarga, lingkungan sosial yang sehat, rehabilitasi terstruktur, serta penguatan aspek spiritual untuk membantu mempertahankan pemulihan dan mencegah kekambuhan.