Djoko Priyatno
Departemen Analis Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Profil Laboratorium Pasien Tuberkulosis (CRP, SGOT, SGPT, Hemoglobin, dan Bakteri Tahan Asam) pada Fase Intensif dan Fase Lanjutan Pengobatan Surati; Djoko Priyatno; S. Y. Didik Widiyanto
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 17 No 1 (2026): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Potekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jmak.v17i1.2051

Abstract

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan global dengan Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus terbanyak setelah India. Pengobatan TBC menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) berpotensi menimbulkan efek samping hepatotoksik dan hematotoksik, sehingga diperlukan pemantauan parameter laboratorium pasien selama fase pengobatan intensif maupun lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil laboratorium pasien TBC berdasarkan kadar C-Reactive Protein (CRP), Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT), Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT), hemoglobin, serta hasil pemeriksaan mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) pada fase pengobatan intensif dan lanjutan. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang (cross sectional) di Balkesmas Ambarawa dengan jumlah sampel 22 pasien, terdiri dari 9 pasien fase intensif dan 13 pasien fase lanjutan. Pemeriksaan meliputi kadar CRP, SGOT, SGPT, hemoglobin, dan mikroskopis BTA. Data dianalisis menggunakan uji Independent T-Test untuk mengetahui perbedaan antar fase pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar SGOT, SGPT, dan hemoglobin antara fase intensif dan lanjutan (p>0,05), dengan nilai rerata tetap berada pada kisaran normal. Kadar CRP menunjukkan penurunan dari fase intensif ke fase lanjutan, mencerminkan perbaikan kondisi inflamasi pasien. Pemeriksaan mikroskopis BTA menunjukkan 67% negatif pada fase intensif dan meningkat menjadi 100% negatif pada fase lanjutan, menandakan efektivitas terapi OAT.  Pengobatan TBC fase intensif dan lanjutan efektif menurunkan inflamasi dan menghilangkan bakteri, sementara parameter laboratorium lain relatif stabil. Kepatuhan minum OAT, status gizi, serta faktor gaya hidup diduga memengaruhi keberhasilan terapi.