Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

OTORITAS HADIS SEBAGAI BAYĀN TAFSIR AL-QUR'AN: ANALISIS NORMATIF DALAM PENETAPAN HUKUM POTONG TANGAN Q.S. AL-MĀ'IDAH [5]: 38 Yusup Supriadi; Muhammad Thalib; Arifin Arifin
Islamic Studies Journal (ISLAM) Vol. 3 No. 1 (2026): Islamic Studies Journal
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/esv4kt95

Abstract

Artikel ini mengkaji fungsi hadis sebagai bayān Al-Qur’an dalam penetapan hukum potong tangan dengan fokus pada QS. al-Mā’idah [5]: 38. Penelitian ini berangkat dari persoalan munculnya pendekatan Qur’an-sentris yang memahami ayat tersebut secara literal tanpa melibatkan hadis sebagai penjelas normatif, sehingga melahirkan kesimpulan hukum yang kaku atau bahkan menafikan hudūd secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan peran hadis dalam memberikan batasan, perincian, dan konteks terhadap perintah Al-Qur’an terkait pencurian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan pendekatan normatif teoritis berbasis ulumul hadis dan ushul fiqih. Data primer berupa ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih dalam kitab-kitab hadis mu‘tabar, sedangkan data sekunder meliputi kitab tafsir, syarah hadis, karya usul fikih, serta artikel jurnal ilmiah kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis berfungsi sebagai bayān tafṣīlī, taqyīd, dan takhṣīṣ dengan menetapkan niṣāb pencurian, syarat-syarat penerapan hukuman, serta prinsip pencegahan penerapan hudūd dalam kondisi syubhat. Temuan ini menunjukkan bahwa pengabaian fungsi hadis sebagai bayān Al-Qur’an berimplikasi pada distorsi pemahaman normatif terhadap hukum potong tangan, baik dalam bentuk penerapan yang tidak proporsional maupun penolakan terhadap legitimasi hudūd itu sendiri. Oleh karena itu, hadis memiliki otoritas epistemologis yang tidak terpisahkan dari Al-Qur’an dalam konstruksi hukum Islam. Dengan demikian, integrasi Al-Qur’an dan hadis merupakan prasyarat utama dalam memahami dan menerapkan hukum potong tangan secara adil, proporsional, dan metodologis.
Konsep Teologi Tauhid dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maudhu‘i terhadap Ayat-Ayat Sifat Allah Yusup Supriadi; Aceng Zakaria; Arifin Arifin
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v6i1.3602

Abstract

Teologi tauhid merupakan fondasi utama ajaran Islam dan kerangka sentral dalam memahami Al-Qur’an. Namun, ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang sifat-sifat Allah sering kali melahirkan perbedaan penafsiran di kalangan mufassir, khususnya antara pendekatan itsbat dan ta’wil. Perbedaan tersebut tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga berakar pada perbedaan metodologi dan epistemologi tafsir dalam memosisikan tauhid sebagai prinsip penafsiran. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep teologi tauhid dalam Al-Qur’an dengan menggunakan metode tafsir maudhu‘i, melalui kajian terhadap ayat-ayat sifat Allah. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, yang mengkaji penafsiran mufassir klasik dan kontemporer dari berbagai kecenderungan metodologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran ayat-ayat sifat terutama disebabkan oleh perbedaan kerangka epistemologis dalam menempatkan relasi antara nash dan akal. Pendekatan tafsir yang berlandaskan tauhid Qur’ani dan menjadikan wahyu sebagai otoritas utama terbukti lebih konsisten secara metodologis dalam menjaga keseimbangan antara itsbat dan tanzih, sekaligus mempertahankan fungsi Al-Qur’an sebagai sumber utama pengenalan terhadap Allah.