Heryyanoor Heryyanoor
Program Studi Profesi Ners, STIKES Intan Martapura, Banjar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Determinan Multidimensional Kejadian Stunting pada Balita di Desa Tambak Anyar Tahun 2025: Multidimensional Determinant Analysis of Stunting Incidence in Toddlers Annisa Febriana; Yulia Yunara; Sapariah Anggraini; Heryyanoor Heryyanoor; Rofiqah Rofiqah
Jurnal Ilmu Kesehatan Insan Sehat Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan Insan Sehat
Publisher : STIKES Intan Martapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54004/jikis.v14i1.517

Abstract

Pendahuluan: Stunting merupakan masalah kesehatan multidimensional yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengetahuan ibu, pola asuh, dan budaya setempat. Desa Tambak Anyar masih menghadapi tantangan dalam upaya penurunan angka stunting pada balita. Tujuan: Menganalisis determinan kejadian stunting pada balita di Desa Tambak Anyar tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 56 ibu balita yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), kuesioner, serta data sekunder dari posyandu dan puskesmas. Variabel independen meliputi pengetahuan ibu, pola asuh, dan pantangan adat, sedangkan variabel dependen adalah kejadian stunting. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar balita berada pada kategori pendek (80,4%) dan sangat pendek (19,6%). Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu (p=0,004), pola asuh (p=0,003), dan pantangan adat (p=0,015) dengan kejadian stunting. Balita dengan ibu berpengetahuan rendah, pola asuh kurang optimal, dan masih menerapkan pantangan adat cenderung mengalami stunting yang lebih berat. Kesimpulan: Kejadian stunting dipengaruhi oleh faktor pengetahuan ibu, pola asuh, dan budaya lokal. Intervensi berbasis keluarga dan budaya diperlukan untuk meningkatkan praktik pengasuhan dan pemenuhan gizi balita.