Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Redesign Fondasi Bore pile Menjadi Tiang Pancang dengan Variasi Diameter Berdasarkan Analisis Daya Dukung dan Penurunan pada Gedung Pendidikan di Kota Jambi Tiara Nanda; Dila Oktarise Dwina; Nita Astasya
Jurnal Sains Dan Teknologi | E-ISSN : 3063-9980 Vol. 3 No. 1 (2026): Juli - September
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The planned bore pile foundation for an educational building in Jambi City faced construction challenges due to compacted sandy soil conditions and the influence of a relatively high-water table, necessitating a more suitable foundation alternative. This study aims to redesign the bore pile foundation into a driven pile foundation and analyze the effect of diameter variations on bearing capacity and foundation settlement to determine the optimal diameter. The study utilized soil investigation data in the form of Standard Penetration Tests (SPT) and Cone Penetration Tests (CPT/Sondir), as well as building structure loading data. The analysis was conducted on spun pile foundations with diameters of 0.4 m, 0.5 m, and 0.6 m at depths of 14 m and 16 m. Bearing capacity was calculated using the Meyerhof method based on SPT data and compared with the results of the ALLPile program analysis, while foundation settlement was analyzed using the Vesic method and ALLPile method. The research results show that bearing capacity increases with increasing pile diameter and depth, while settlement values tend to decrease. A comparison between the Meyerhof and ALLPile methods shows relatively consistent results with no significant differences. All foundation variations meet the bearing capacity and allowable settlement requirements. Based on an evaluation of bearing capacity, settlement, and design efficiency, piles with a diameter of 0.5 m and a depth of 14 m were selected as the most optimal foundation alternative for the soil conditions at the study site.
Analisis Penentuan Nilai CBR Desain Berdasarkan Korelasi DCP Pada Tanah Dasar Di Ruas Jalan Desa Delima – Sungai Keruh Kecamatan Tebing Tinggi Fairuza Firly Rizkiya; Dila Oktarise Dwina; Nita Astasya
Jurnal Sains Dan Teknologi | E-ISSN : 3063-9980 Vol. 3 No. 1 (2026): Juli - September
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai California Bearing Ratio (CBR) merupakan parameter penting dalam menentukan daya dukung tanah dasar pada perencanaan perkerasan jalan. Pengujian Dynamic Cone Penetrometer (DCP) banyak digunakan sebagai metode praktis untuk memperkirakan nilai CBR melalui berbagai persamaan korelasi empiris. Namun, perbedaan metode korelasi dapat menghasilkan nilai CBR yang bervariasi sehingga memengaruhi penentuan nilai CBR desain. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan nilai CBR desain yang diperoleh dari metode korelasi Kementerian PUPR (2010), Smith dan Pratt (1983), serta Ardianto (2017) berdasarkan hasil uji DCP pada ruas Jalan Desa Delima–Sungai Keruh, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder hasil pengujian DCP pada 16 titik pengamatan yang diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Analisis dilakukan melalui konversi nilai DCP menjadi CBR menggunakan ketiga metode korelasi, penentuan CBR karakteristik dengan metode persentil ke-10 sesuai Manual Desain Perkerasan Jalan (MDP) Bina Marga 2024, serta koreksi terhadap faktor musim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CBR desain yang diperoleh dari metode Kementerian PUPR (2010), Smith dan Pratt (1983), dan Ardianto (2017) berturut-turut sebesar 4,79%, 4,70%, dan 5,30%. Seluruh nilai tersebut berada di bawah persyaratan minimum CBR sebesar 6% sesuai MDP Bina Marga 2024, sehingga tanah dasar pada lokasi penelitian belum memenuhi syarat sebagai lapisan dasar perkerasan jalan dan memerlukan perbaikan tanah. Di antara ketiga metode yang dibandingkan, metode Ardianto (2017) menghasilkan nilai CBR tertinggi dan dinilai lebih representatif terhadap karakteristik tanah lempung berpasir di lokasi penelitian.