Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Monitoring Realtime Berbasis Internet of Things (IoT) untuk Pengendalian Rework dan Peningkatan Efisiensi Produksi pada Industri Alas Kaki: (Studi Kasus: PT YCS) Setiyo Puji Muswantoro
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1886

Abstract

PT YCS merupakan perusahaan manufaktur alas kaki yang menghadapi permasalahan tingginya tingkat rework pada proses produksi, yang berdampak terhadap rendahnya efisiensi produksi, meningkatnya waktu proses, dan pemborosan biaya operasional. Berdasarkan data aktual perusahaan, tingkat rework mencapai 39% dari total output produksi, sehingga diperlukan pendekatan pengendalian kualitas yang mampu mengidentifikasi sumber kegagalan proses sekaligus meningkatkan respons terhadap defect produksi secara realtime. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan monitoring berbasis Internet of Things (IoT) dalam pengendalian rework serta peningkatan efisiensi produksi pada PT YCS. Metode FMEA digunakan untuk mengidentifikasi failure mode, menganalisis tingkat risiko berdasarkan parameter Severity, Occurrence, dan Detection, serta menentukan prioritas perbaikan menggunakan Risk Priority Number (RPN). Hasil analisis menunjukkan bahwa failure mode dominan berada pada kategori peel off dan bond gap outsole dengan nilai RPN tertinggi masing-masing sebesar 504 dan 392 sehingga ditetapkan sebagai prioritas pengendalian proses. Selanjutnya, monitoring realtime berbasis IoT diterapkan dalam bentuk dashboard defect monitoring pada workstation kritis untuk meningkatkan visibilitas proses dan mempercepat tindakan korektif terhadap penyimpangan kualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi FMEA dan monitoring realtime berbasis IoT mampu menurunkan tingkat rework dari 39% menjadi 15% atau sebesar 61,54%. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi berbasis analisis risiko dan monitoring digital efektif dalam meningkatkan pengendalian kualitas dan efisiensi produksi pada industri alas kaki.
REDESAIN MEJA KERJA GURU SECARA ERGONOMIS DENGAN METODE QFD-NPD PADA JAKARTA INTERCULTURAL SCHOOL AQUATICS sarwoko sarwoko; Setiyo Puji Muswantoro
JURNAL INDUSTRI DAN TEKNOLOGI SAMAWA Vol 7 No 2 (2026): EDISI 14
Publisher : Program Studi Teknik Industri Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/jitsa.v7i2.7821

Abstract

The word desk used at the Jakarta Intercultural Schol Aquatic were found to be ergonomically inadequate, resulting in reduced comfort during teaching activities. A questionnaire survey involving 41 teachers revealed that all respondents considered the existing desks uncomfortable. The most frequently reported musculoskeletal complaints were lower back pain (68%), leg discomfort (54%), and hand discomfort (29%). This study aimed to redesign the teachers' work desk using an integrated Quality Function Deployment (QFD) and New Product Development (NPD) approach supported by anthropometric data. QFD was employed to identify and prioritize user requirements through the House of Quality (HoQ), while NPD was applied to the stages of concept development, product specification, and prototype design based on the prioritized customer needs. The results indicated that the highest-priority requirements included a wider work surface, a drawer, a bag storage compartment, a stationery holder, and an easily accessible electrical outlet. Anthropometric analysis produced the main desk dimensions of 74 cm in height, 80 cm in length, and 60.31cm in width. The proposed ergonomic desk design is expected to improve teachers' comfort, reduce the risk of musculoskeletal disorders, and serve as a practical reference for developing ergonomic workplace facilities in educational institutions