Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Smarāgamā as Dialogical Theology: Hindu-Islamic Convergence in Bali Ida Bagus Subrahmaniam Saitya; Lalu Usman Ali; Mawardi Saleh; Made Wahyu Mahendra
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 10 No 3 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v10i3.5356

Abstract

This study examines the articulation of Islamic and Hindu theological concepts in the Smarāgamā, a Balinese lontar manuscript that reflects interreligious encounters in pre-modern Bali. While previous studies on Hindu-Muslim relations in Bali have largely focused on sociological practices and cultural coexistence, the theological and textual dimensions of these encounters remain critically underexplored. Drawing on the scholarly transliteration and translation edition by Manuaba et al., (2017) as its primary source, this research employs qualitative textual and contextual analysis to investigate how key Islamic concepts, Allah, makrifat, and hakikat are systematically articulated within a Hindu Śaiva metaphysical framework. The findings reveal that Smarāgamā does not position Islam and Hinduism as competing systems; rather, it constructs a dialogical theological framework in which Islamic Sufi epistemology and Hindu Śaiva metaphysics converge through shared principles of tattwa eka (divine unity), spiritual knowledge, and ethical discipline. Four principal findings emerge from this study: first, the text constructs a shared metaphysical ground between Hyang Widhi and Allah as expressions of the same transcendent reality; second, the Islamic Sufi concepts of makrifat, hakikat, and nur function as epistemological bridges connecting Islamic and Hindu spiritual traditions through analogical rather than identical relationships; third, the text develops an interreligious cosmology through the internalization of Mecca as inner sacred geography and the embodiment of the Islamic prophetic tradition within the Hindu microcosmic understanding of the human body and fourth, the text foregrounds ethical conduct and inner purification as universal prerequisites for divine knowledge, transcending formal religious boundaries. Taken together, these findings demonstrate that Smarāgamā represents a localized yet intellectually sophisticated model of dialogical theology, organically emerging from within the Hindu Śaiva tradition of Bali, evidence that inclusive and dialogical interreligious perspectives have deep historical roots in Balinese intellectual heritage, with meaningful implications for comparative theology and interreligious studies in the Indonesian context.
Enhancing Critical Thinking Skills in Kindergarten Children through Interactive Storytelling: A-Quasi-Experimental Study in Indonesia Putu Gede Asnawa Dikta; Made Wahyu Mahendra; Luh Putu Okta Kusumadewi
Journal of Contemporary Gender and Child Studies Vol 4 No 3 (2025): December: Women and Children Welfare in Indonesian Context
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/jcgcs.v4i3.456

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas mendongeng terhadap keterampilan berpikir kritis siswa Taman Kanak-Kanak Pratama Widyalaya Rare Semesta. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya pengembangan kemampuan berpikir kritis sejak usia dini melalui metode pembelajaran yang menyenangkan dan kontekstual. Dongeng dipilih karena memiliki potensi edukatif dalam menstimulasi imajinasi, emosi, dan penalaran anak. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen semu (quasi-experiment) dengan desain one-group pretest-posttest pada 17 siswa kelas B. Data dikumpulkan melalui observasi, tes kinerja sederhana, wawancara guru, dan dokumentasi kegiatan mendongeng selama satu semester. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan keterampilan berpikir kritis anak dari rata-rata 40% pada pretest menjadi 72% pada posttest. Anak menunjukkan kemajuan dalam kemampuan bertanya reflektif, menganalisis tindakan tokoh, serta menyimpulkan isi cerita dengan bahasa sendiri. Peningkatan ini membuktikan efektivitas mendongeng sebagai strategi pembelajaran yang mendorong anak berpikir aktif dan logis. Secara teoritis, hasil penelitian memperkuat pandangan Vygotsky bahwa interaksi sosial melalui bahasa memfasilitasi perkembangan berpikir tingkat tinggi. Disarankan agar guru PAUD menjadikan mendongeng sebagai kegiatan rutin yang interaktif dengan dukungan media variatif untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis anak usia dini. Kata kunci: mendongeng, berpikir kritis, anak usia dini, pembelajaran PAUD, widyalaya