Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Penerapan Metode Root Cause Analysis (RCA) Dan Plan, Do, Check, Action (PDCA) Untuk Menurunkan Nilai Deadstock Pada GudangĀ  Spare Part Fajriyah Amanatus Sholikhah; Heru Darmawan; Yudi Prastyo
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1971

Abstract

Deadstock pada gudang spare part manufaktur memicu inefisiensi finansial akibat pembekuan modal kerja dan pembengkakan biaya penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab utama munculnya deadstock spare part di PT. XYZ serta merancang tindakan perbaikan terstruktur. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kuantitatif dengan mengintegrasikan metode Root Cause Analysis (RCA) melalui Fishbone Diagram dan 5 Whys Analysis ke dalam siklus Plan, Do, Check, Action (PDCA). Data finansial awal (baseline) dipetakan ke dalam empat kategori kekritisan, di mana kategori Critical Part mendominasi akumulasi kerugian terbesar yaitu senilai Rp 199.173.000 (45,64%) dari total deadstock awal sebesar Rp 436.436.000. Hasil analisis RCA mengidentifikasi bahwa akar penyebab utama masalah dipicu oleh metode pemesanan ulang yang belum matematis, ketiadaan sistem monitoring otomatis, serta diskoneksi data antara jadwal perawatan mesin dengan pengadaan. Rencana tindakan perbaikan dirancang menggunakan matriks 5W+1H. Implementasi perbaikan dilakukan melalui penerapan Safety Stock dan Reorder Point, pembuatan dasbor pengendalian visual berbasis traffic light system, serta eksekusi disposal. Hasil evaluasi menunjukkan penurunan akumulasi nilai finansial deadstock yang sangat drastis dari Rp 436.436.000 menjadi Rp 50.020.017, menghasilkan selisih penurunan sebesar Rp 386.415.983 dengan tingkat persentase efektivitas perbaikan tata kelola final mencapai 88,54%. Pada tahap Action, keberlanjutan perbaikan dikunci melalui standardisasi draf Standard Operating Procedure (SOP) kontrol inventaris baru, klasifikasi ketat terhadap 2.401 item material, dan integrasi alur persetujuan berlapis (approval workflow).