Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Integration of VSM and SMED for Optimization of the CCB Milling Process Yusrizal; Heru Darmawan; Rani Rahmadiyani
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/v3ny6d36

Abstract

Productivity improvement in manufacturing systems requires systematic identification and elimination of waste, particularly in bottleneck processes. This study was conducted at PT XYZ, an automotive component manufacturer experiencing low productivity in the CCB part production line. The milling process was identified as the primary bottleneck, with an initial cycle time of 472 seconds for 6 pieces and an average output of 550 pcs/day, achieving only 75.6% of the production target. This research aims to identify the causes of waste, reduce cycle time in the milling process, and increase production output in line with management targets. The study applies Value Stream Mapping (VSM) to analyze material and information flow, Process Activity Mapping (PAM) to classify internal and external activities, and the Single Minute Exchange of Dies (SMED) method to minimize setup time. Improvements were implemented using the PDCA (Plan–Do–Check–Act) cycle. Root cause analysis using fishbone and 5W+1H identified manual clamping operations as the main contributor to excessive internal time and variability. A semi-automatic pneumatic clamping system was introduced to replace manual bolt tightening and clamp handling. The results show a reduction in internal setup activities from 12 to 9 activities and a decrease in cycle time from 472 seconds to 425 seconds (9.9%). Consequently, daily production output increased from 550 pcs/day to 652 pcs/day, representing an 18.5% productivity improvement and exceeding the initial 10% target. The findings confirm that integrating VSM and SMED with semi-automation effectively enhances operational performance without full-scale automation investment.
Penerapan Metode Root Cause Analysis (RCA) Dan Plan, Do, Check, Action (PDCA) Untuk Menurunkan Nilai Deadstock Pada Gudang  Spare Part Fajriyah Amanatus Sholikhah; Heru Darmawan; Yudi Prastyo
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1971

Abstract

Deadstock pada gudang spare part manufaktur memicu inefisiensi finansial akibat pembekuan modal kerja dan pembengkakan biaya penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab utama munculnya deadstock spare part di PT. XYZ serta merancang tindakan perbaikan terstruktur. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kuantitatif dengan mengintegrasikan metode Root Cause Analysis (RCA) melalui Fishbone Diagram dan 5 Whys Analysis ke dalam siklus Plan, Do, Check, Action (PDCA). Data finansial awal (baseline) dipetakan ke dalam empat kategori kekritisan, di mana kategori Critical Part mendominasi akumulasi kerugian terbesar yaitu senilai Rp 199.173.000 (45,64%) dari total deadstock awal sebesar Rp 436.436.000. Hasil analisis RCA mengidentifikasi bahwa akar penyebab utama masalah dipicu oleh metode pemesanan ulang yang belum matematis, ketiadaan sistem monitoring otomatis, serta diskoneksi data antara jadwal perawatan mesin dengan pengadaan. Rencana tindakan perbaikan dirancang menggunakan matriks 5W+1H. Implementasi perbaikan dilakukan melalui penerapan Safety Stock dan Reorder Point, pembuatan dasbor pengendalian visual berbasis traffic light system, serta eksekusi disposal. Hasil evaluasi menunjukkan penurunan akumulasi nilai finansial deadstock yang sangat drastis dari Rp 436.436.000 menjadi Rp 50.020.017, menghasilkan selisih penurunan sebesar Rp 386.415.983 dengan tingkat persentase efektivitas perbaikan tata kelola final mencapai 88,54%. Pada tahap Action, keberlanjutan perbaikan dikunci melalui standardisasi draf Standard Operating Procedure (SOP) kontrol inventaris baru, klasifikasi ketat terhadap 2.401 item material, dan integrasi alur persetujuan berlapis (approval workflow).
Analisis Penyebab Defect Pada Part Electric Dalam Proses Incoming Inspection Yoga Pratama; Heru Darmawan; Yudi Prastyo
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1974

Abstract

Kualitas part electric yang diterima pada proses incoming inspection merupakan faktor penting dalam menjaga kelancaran proses produksi dan kualitas produk akhir. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis defect dominan, menganalisis faktor penyebab, serta menyusun usulan perbaikan pada proses incoming inspection part electric di PT XYZ menggunakan metode Seven Quality Control Tools. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data primer melalui observasi dan wawancara serta data sekunder berupa laporan incoming inspection, Standard Operating Procedure (SOP), dan Work Instruction. Analisis dilakukan menggunakan Check Sheet, Histogram, Diagram Pareto, Scatter Diagram, Flowchart, Control Chart, dan Fishbone Diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa defect Under Spec Length pada Power Cord merupakan jenis defect yang paling dominan dengan jumlah 83 pcs (29,86%), diikuti Label Printing Faded sebanyak 50 pcs (17,99%), No Power sebanyak 45 pcs (16,19%), Missing Tapping sebanyak 43 pcs (15,47%), Missing IMS sebanyak 32 pcs (11,51%), dan No Sound sebanyak 25 pcs (8,99%). Scatter Diagram menunjukkan hubungan yang lemah antara jumlah PCS/LOT dengan persentase defect, sehingga tingginya defect lebih dipengaruhi oleh kualitas material, metode inspeksi, ketelitian inspector, dan kondisi proses sebelumnya. Fishbone Diagram mengidentifikasi faktor penyebab utama berasal dari aspek man, method, material, machine, dan environment. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diusulkan beberapa tindakan perbaikan berupa pelatihan inspector, standarisasi SOP, penggunaan checklist inspection, evaluasi supplier, kalibrasi alat inspeksi, serta perbaikan area kerja melalui peningkatan pencahayaan dan penerapan prinsip 5R. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi PT XYZ dalam meningkatkan efektivitas proses incoming inspection, menurunkan jumlah defect, serta mendukung perbaikan kualitas secara berkelanjutan.
Perencanaan Tata Letak Gudang Bahan Baku Menggunakan Metode Dedicated Storage pada PT. Bonecom Tricom Teddy Arianto; Heru Darmawan; Rani Rahmadiyani
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v5i3.8244

Abstract

This research aims to redesign the design of raw material storage rooms to improve efficiency in material storage and retrieval at PT. Bonecom Tricom. The problems found include limited storage space capacity for raw materials which causes the utilization of warehouse areas to be less than optimal, storage layouts that have not been effectively organized so as to hinder the process of finding and retrieving materials, and the use of forklifts that interfere with the smooth flow of materials. This condition results in an increase in material transfer distance, longer handling time, and decreased warehouse operational efficiency. The method applied in this study is descriptive, with data collection techniques through direct observation, interviews, and secondary data documentation studies. The data collected includes the arrangement of existing facilities, the distance between work areas, the movement of raw materials, and the size and location of each facility. In the layout redesign, the Fixed Storage method was applied, which was based on the analysis of the throughput ratio as well as the space requirements for each product. At the end of this study, it is hoped that it can provide suggestions for improvements to the layout system that will optimize the use of space and smooth the flow of materials in the warehouse.
Analisis Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Dengan Menggunakan Metode Hazard Identification,Risk Assessment, Risk Control (HIRARC) Pada UMKM Praja Welding Mohamad Kiki Alfiandi; Heru Darmawan; Rani Rahmadiyani
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.9372

Abstract

UMKM Praja Welding merupakan usaha yang bergerak pada bidang fabrikasi dan pengelasan logam yang memiliki berbagai potensi bahaya pada setiap aktivitas produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko kecelakaan kerja, serta memberikan rekomendasi pengendalian risiko menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada proses cutting, welding, grinding, dan drilling. Hasil identifikasi menunjukkan adanya berbagai potensi bahaya seperti percikan api, serpihan logam, radiasi sinar las, asap las, material panas, kebisingan, dan sengatan listrik. Hasil penilaian risiko menunjukkan bahwa sebagian besar potensi bahaya berada pada kategori high risk dan extreme risk, terutama pada proses welding dan cutting. Risiko tertinggi ditemukan pada percikan las dan paparan asap las yang dapat menyebabkan luka bakar dan gangguan pernapasan. Upaya pengendalian risiko dilakukan melalui rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan penggunaan alat pelindung diri. Penerapan pengendalian tersebut diharapkan mampu menurunkan tingkat risiko kecelakaan kerja serta meningkatkan keselamatan dan kesehatan pekerja pada UMKM Praja Welding.
Analisis Dan Evaluasi Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) Menggunakan Metode 5w+1h Dalam Upaya Pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB) Akibat Keracunan Pangan Muhammad Rizky; Heru Darmawan; Rani Rahmadiyani
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.9374

Abstract

Good Manufacturing Practices (GMP) merupakan pedoman yang berperan dalam menjamin keamanan, mutu, dan higienitas pangan pada setiap tahapan proses produksi. Penerapan GMP menjadi aspek yang sangat diperlukan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengingat tingginya risiko kontaminasi pangan yang dapat menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan apabila standar keamanan pangan tidak diterapkan secara konsisten. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat penerapan GMP pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cileungsi, Kabupaten Bogor, serta mengidentifikasi akar penyebab ketidaksesuaian menggunakan metode 5W+1H untuk menyusun rekomendasi perbaikan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, interpretasi, evaluasi, serta analisis 5W+1H. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar aspek GMP telah diterapkan dengan baik, namun masih ditemukan ketidaksesuaian pada kondisi bangunan, fasilitas sanitasi, higiene penjamah makanan, pemeliharaan peralatan, dan pengendalian proses produksi. Analisis 5W+1H menunjukkan bahwa permasalahan dipengaruhi oleh keterbatasan fasilitas, belum optimalnya penerapan prosedur operasional, serta kurangnya pengawasan dan kedisiplinan tenaga kerja. Penerapan rekomendasi perbaikan diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan terhadap standar GMP, memperkuat keamanan pangan, meningkatkan efisiensi proses produksi, serta mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis secara berkelanjutan