Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) ini dilaksanakan di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dengan melibatkan komunitas perempuan penenun tradisional yaitu Kelompok Perajin Tenun Fetung Bayan sebagai mitra utama. Mitra berada dalam kondisi sosial ekonomi yang terbatas, dengan keterampilan tenun yang diwariskan secara turun-temurun namun belum terintegrasi dengan pendekatan teknologi dan ekonomi kreatif secara optimal. Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi kurangnya Pemanfaatan Pengetahuan Lokal Etnomatematika (pola geometris dan perhitungan) dan Etnolinguistik (simbolisme dan narasi dalam motif) tenun Fetung Bayan yang belum sepenuhnya digali dan dimanfaatkan sebagai keunggulan produk sebagai makna simbolis dan perhitungan matematis serta minimnya dokumentasi dan sosialisasi nilai- nilai etnomatematika dan etnolinguistik kepada penenun dan masyarakat luas, generasi muda kurang tertarik mempelajari tenun karena prosesnya yang panjang, kurang efisien, dan dianggap kurang relevan dengan tren modern serta kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi pigmen natural/pewarna alami yang dianggap lebih rumit dan memakan waktu 1-3 hari serta ketergantungan pada pewarna sistetis dan rendahnya nilai tambah produk tenun. Metode pelaksanaan berbasis Participatory Rulal Approach (PRA) yang dilakukan melalui penyuluhan, pelatihan, demosntrasi dan pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas mitra dalam memahami dan mengembangkan nilai budaya produk tenun. Produk inovatif yang dihasilkan berupa koleksi tenun dengan motif geometris terstandarisasi, pewarna alami yang tahan lama, serta narasi budaya yang memperkuat identitas lokal. Selain itu Tersedianya Inovasi digitalisasi dalam bentuk kamus visual digital BaTeCNusantara.id yang berisi istilah tenun dalam bahasa Bayan, makna filosofis motif, dan narasi budaya serta Kode Etnomatematik (narasi intelektual yang meningkatkan nilai ekslusivitas produk turunan kain tenun Bayan, serta pembuatan dokumentasi audiovisual. Progres luaran wajib telah mencakup artikel media massa, video kegiatan, poster, Jurnal, HKI, akun e- commerce dan terciptanya kamus visual digital "BaTeC" (Bayan Tenun Code). Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis budaya yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi