Kawasan karst Rammang-Rammang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, merupakan destinasi ekowisata ikonik dengan Sungai Pute sebagai daya tarik utamanya. Perkembangan pariwisata yang pesat di kawasan ini diduga menimbulkan tekanan terhadap ekosistem sungai karst yang secara alamiah rentan terhadap pencemaran. Penelitian ini bertujuan mendokumentasikan indikasi penurunan kualitas Sungai Pute berdasarkan observasi lapangan dan persepsi aktor lokal, serta merumuskan rekomendasi pengelolaan berkelanjutan. Pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus digunakan melalui observasi partisipatif pada beberapa kunjungan lapangan dan wawancara informal terhadap lima informan kunci satu pemandu wisata, dua operator perahu, dan dua wisatawan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik induktif. Hasil observasi menunjukkan indikasi kasatmata penurunan kualitas Sungai Pute, ditandai akumulasi sampah plastik, residu bahan bakar perahu, dan limbah organik tak terkelola. Informan secara konsisten mempersepsikan penurunan kejernihan air seiring lonjakan kunjungan wisatawan. Penelitian ini tidak melibatkan pengukuran kualitas air secara laboratoris; karena itu, temuan terkait kondisi sungai dipahami sebagai indikasi observasional dan persepsi informan, bukan diagnosis ilmiah yang terverifikasi secara kuantitatif. Penelitian menyimpulkan bahwa model pengelolaan pariwisata saat ini perlu dicermati lebih lanjut, dan merekomendasikan kajian kualitas air lanjutan serta penguatan tata kelola kolaboratif antar pemangku kepentingan.Kata Kunci:, Ekowisata, Karst, Observasi Kualitatif, Rammang – Rammang, Sungai Pute