Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Asal Dan Tujuan Kekuasaan: Implikasi Metafisis Tipologi Kepangeranan Menurut Machiavelli Urbanus Ura Weruin; Vidyarto Nugroho; Herlina Budiono
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.468

Abstract

Dalam khazanah politik, pemikiran Machiavelli tidak hanya penting dan relevan pada zamannya melainkan juga sampai hari ini. Artikel hasil studi kepustakaan ini menguraikan tipe kepangeranan menurut Machiavelli dan implikasi metafisik kekuasaan. Dalam buku The Prince (Sang Pangeran) Machiavelli menguraikan tiga tipe kepangeranan berdasarkan asal atau sumber kekuasaan. Tipe-tipe tersebut adalah kepangeranan yang berdasarkan keturunan, kepangeranan yang direbut atau diciptakan (decreated), dan kepangeranan gerejawi. Kepangeranan yang diciptakan dimiliki oleh warga negara yang memiliki kemampuan handal atau karena nasib mujur. Namun pangeran yang memiliki kemampuan (prowess) jauh lebih handal jika dibandingkan dengan pangeran yang menjadi pangeran karena nasib mujur (fortune). Nasib mujur adalah bahan untuk membentuk kekuasaan. Kepangeranan gerejawi dikelola oleh lembaga religius yang kuat dan berwibawa tanpa peduli pada sikap dan cara hidup rakyat. Kekuasaan gerejawi tidak perlu dipertahankan karena tidak akan direbut. Asumsi metafisis kekuasaan dari tipologi kepengeranan Machiavelli adalah bahwa realitas politik bukanlah suatu realitas ‘ideal’ sebagaimana dibayangkan Plato sebagai realitas yang abadi, kekal, sempurna, dan tak berubah melainkan suatu realitas yang dibangun atas dasar kebutuhan real-pragmatis kekuasaan. Machiavelli mengajarkan bahwa kekuasaan itu kontingen; perlu dirawat dengan belajar dari pada pendahulu; membangun ‘citra’; lebih baik ditakuti dari pada dicintai; berorientasi pada kepentingan praktis-pragmatis kekuasaan.
Penerapan Green Economy pada PT CP: Pembalikan Paradigma dari Ekonomi Eksploitatif ke Ekonomi Konservasi Guna Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Urbanus Ura Weruin
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 6, No 3 (2026): Abdira
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v6i3.2102

Abstract

The green economy represents a shift from a resource-exploitation approach toward a resource-conservation paradigm that balances economic growth with environmental sustainability. Rather than focusing solely on profit and production expansion, this concept emphasizes the need to consider the long-term impacts of economic activities on natural resources and human well-being. Its key principles include efficient resource and energy use, poverty reduction, social equity, renewable energy adoption, low-carbon development, and sustainable consumption and production patterns. The green economy also promotes improved environmental data management and greater awareness of ecological limits. Ultimately, it seeks to enhance quality of life while ensuring the fair distribution of prosperity and the protection of resources for future generations. As a PKM partner operating in the sugar industry, PT CP is closely connected to natural resource utilization and environmental impacts. This program successfully increased the company’s ecological awareness and strengthened its commitment to integrating sustainability into business operations and decision-making processes.