Dalam khazanah politik, pemikiran Machiavelli tidak hanya penting dan relevan pada zamannya melainkan juga sampai hari ini. Artikel hasil studi kepustakaan ini menguraikan tipe kepangeranan menurut Machiavelli dan implikasi metafisik kekuasaan. Dalam buku The Prince (Sang Pangeran) Machiavelli menguraikan tiga tipe kepangeranan berdasarkan asal atau sumber kekuasaan. Tipe-tipe tersebut adalah kepangeranan yang berdasarkan keturunan, kepangeranan yang direbut atau diciptakan (decreated), dan kepangeranan gerejawi. Kepangeranan yang diciptakan dimiliki oleh warga negara yang memiliki kemampuan handal atau karena nasib mujur. Namun pangeran yang memiliki kemampuan (prowess) jauh lebih handal jika dibandingkan dengan pangeran yang menjadi pangeran karena nasib mujur (fortune). Nasib mujur adalah bahan untuk membentuk kekuasaan. Kepangeranan gerejawi dikelola oleh lembaga religius yang kuat dan berwibawa tanpa peduli pada sikap dan cara hidup rakyat. Kekuasaan gerejawi tidak perlu dipertahankan karena tidak akan direbut. Asumsi metafisis kekuasaan dari tipologi kepengeranan Machiavelli adalah bahwa realitas politik bukanlah suatu realitas ‘ideal’ sebagaimana dibayangkan Plato sebagai realitas yang abadi, kekal, sempurna, dan tak berubah melainkan suatu realitas yang dibangun atas dasar kebutuhan real-pragmatis kekuasaan. Machiavelli mengajarkan bahwa kekuasaan itu kontingen; perlu dirawat dengan belajar dari pada pendahulu; membangun ‘citra’; lebih baik ditakuti dari pada dicintai; berorientasi pada kepentingan praktis-pragmatis kekuasaan.
Copyrights © 2026