Muhammad Elrazy
Program Studi Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global, Universitas Budi Luhur

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Flexing sebagai Bentuk Ekspresi Kekerasan Simbolik dalam Media Sosial Instagram Muhammad Elrazy; Chazizah Gusnita
Deviance Jurnal Kriminologi Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.4644

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya Instagram, telah mendorong munculnya fenomena “flexing” sebagai praktik menampilkan kekayaan, gaya hidup, dan simbol status sosial guna memperoleh pengakuan publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik flexing sebagai bentuk ekspresi kekerasan simbolik dalam arena media sosial Instagram dengan menggunakan perspektif teori kekerasan simbolik Pierre Bourdieu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengguna Instagram yang melakukan praktik Flexing dan seorang ahli sosiologi, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Flexing tidak lagi sekadar menjadi bentuk hiburan atau ekspresi diri, tetapi telah berkembang menjadi mekanisme kekerasan simbolik yang bekerja secara halus melalui representasi kemewahan, keberhasilan, dan status sosial. Praktik tersebut membentuk standar sosial baru yang mendorong individu untuk mengejar legitimasi dan pengakuan melalui akumulasi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Penelitian ini juga menemukan tiga pola utama Flexing, yaitu komodifikasi modal ekonomi artifisial, pemanfaatan modal budaya, dan eksploitasi modal sosial sebagai strategi untuk memperoleh prestise di ruang digital. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya perilaku konsumtif, tekanan psikologis, serta reproduksi ketimpangan simbolik di masyarakat digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Instagram telah menjadi arena reproduksi kekuasaan simbolik yang menormalisasi dominasi melalui simbol-simbol kemewahan, sehingga diperlukan peningkatan literasi digital agar masyarakat mampu memahami dan mengkritisi praktik flexing secara lebih reflektif.