Claim Missing Document
Check
Articles

VISUALISASI REFLEKSI KEJAHATAN KEKERASAN DALAM MURAL DI KELURAHAN KEDOYA UTARA, JAKARTA BARATVISUALISASI REFLEKSI KEJAHATAN KEKERASAN DALAM MURAL DI KELURAHAN KEDOYA UTARA, JAKARTA BARAT Gusnita, Chazizah
IKRA-ITH ABDIMAS Vol 2 No 1 (2019): IKRAITH-ABDIMAS vol 2 Nomor 1 Bulan Maret 2019
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.522 KB)

Abstract

ABSTRAKMural termasuk salah satu bentuk dari seni visual. Mural bukan seni yang berdiri tanpa adanya makna,melainkan ia berdiri dengan ribuan pesan yang terkandung di dalamnya. Seiring perkembangan zaman danperadaban manusia, mural mengalami transformasi dari sebuah media ritual menjadi salah satu kaya senipelengkap elemen ruang seperti; dinding, langit-langit, dan permukaan datar lainnya. Pada hakikatnyamural terbentuk melalui tangan para pemuda yang dinilai anarkis oleh sebagian masyarakat umum, olehsebab itu maka tidak jarang mural disebut sebagai polusi pemandangan. Namun kegiatan Pengabdian yangdilakukan ini justru untuk mencegah kejahatan melalui seni mural. Mural yang distigma buruk bergantimakna dengan nilai positif. Bahkan mural akan menjadi ?iklan? bermanfaat bagi pencegahan kejahatankekerasan di masyarakat. Di sisi lain, tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bukan hanya aksimencoret-coret dinding. PKM ini melibatkan sejumlah elemen pekerja seni dan komunitas agar muraltampak ?real?. Metode PKM ini juga merupakan realisasi dari kriminologi visual dengan membawamahasiswa dalam pelatihan visualisasi kriminal. Ada sekitar 10 meter dinding yang disediakan dalamrealisasi kegiatan mural di wilayah Jakarta Barat. Dengan menggunakan sejumlah cat dan kuas,pelaksanaan mural ini dilakukan pengerjaannya selama 1 hari. Hasilnya, sejumlah masyarakat yangberdomisili di wilayah sekitar dapat melihat mural yang dibuat sebagai bentuk pencegahan kejahatankekerasan. Bahkan, beberapa warga di sekitar lokasi mengharapkan kegiatan ini tetap terlaksana di RT yanglain.
FENOMENA ANAK SEBAGAI PELAKU PERSEKUSI DI MEDIA SOSIAL Gusnita, Chazizah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3455

Abstract

Kasus persekusi mencuat ke publik mulai tahun 2017. Data dari SAFEnet mencatat pada Juni 2017 ada 66 pengaduan aksi persekusi di seluruh Indonesia. Bahkan tercatat ada 100 kasus persekusi yang terjadi sejak awal tahun 2017 sampai November 2017. Sementara data KontraS menyebutkan, sedikitnya ada 48 kasus atau peristiwa persekusi berbasis agama dan keyakinan terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2017. Hingga kemudian persekusi dinilai menjadi sebuah fenomena di Indonesia yang terjadi pada akhir 2016 hingga awal 2017. Masalah persekusi ini dapat terjadi akibat kebebasan berpendapat yang berlebihan di media sosial, orang dapat dengan bebas dan seenaknya melakukan penghinaan terhadap ulama atau tokoh lain, sedangkan disisi lain pihak yang merasa menjadi korban penghinaan tidak lagi percaya kepada penegak hukum sehingga muncul tindakan persekusi. Dalam kasus persekusi ini pun tidak jarang anak-anak terlibat di dalamnya. Anak-anak tersebut bahkan menjadi pelaku persekusi di media sosial. Maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana anak melakukan persekusi dan model rehabilitasi anak sebagai pelaku persekusi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis studi literatur pemberitaan anak di media massa dan metode terapi anak sebagai pelaku. Hasil penelitian ini melihat fenomena persekusi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1965 karena melihat karakteristik persekusi yang tidak hanya sekedar ancaman. Persekusi masuk dalam kategori kejahatan pelanggaran HAM. Memberikan rasa takut pada orang lain dalam bentuk kekerasan baik verbal, fisik, maupun psikologis merupakan kejahatan HAM. Namun jika melihat dari pelaku yang masih usia anak-anak, maka tetap mempertimbangkan undang-undang perlindungan anak dimana anak tersebut harus diberikan rehabilitasi. Metode terapi anak diberikan oleh lembaga yang berwenang yaitu Balai Rehabilitasi Sosial Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Kemensos. Cases of persecution started to surface in 2017. According to data from SAFEnet, in June 2017 there were 66 complaints of persecution throughout Indonesia. Meanwhile, there were 100 cases of persecution that occurred from the beginning of 2017 to November 2017. Data from KontraS stated that there were at least 48 cases or events of religion and belief-based persecution occurring from January to October 2017. Until then, persecution was considered to be a phenomenon in Indonesia that occurred at the end of 2016 until early 2017. Issues of persecution may occur due to excessive freedom of expression on social media, where people can freely and arbitrarily insult religious or other figures, while on the other hand, those who feel victimized no longer trust law enforcement which leads to persecution. It is not uncommon for children to be involved in cases of persecution. Children may even become the perpetrators of persecution on social media. The purpose of this study is to find out how children carry out persecution and the rehabilitation models for children as perpetrators of persecution. The method used in this study is descriptive qualitative, with literature analysis study of news involving children in the media and therapy methods for children as perpetrators. The result of this study indicates that the persecution phenomenon has been around since 1965, referring to characteristics of persecution as more than mere threats. Persecution is included in the category of crimes against human rights. Instilling fear in other people in the form of verbal, physical and psychological violence is crime against human rights. However, if the perpetrators are children, then we must consider the child protection law, indicating that the child must be given rehabilitation. Child therapy method is administered by authorized institutions such as the Balai Rehabilitasi Sosial Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) of Ministry of Social Affairs.
Polusi Udara Kendaraan Bermotor sebagai Bentuk Kejahatan Tanpa Korban Chazizah Gusnita
SISI LAIN REALITA Vol. 1 No. 2 (2016): Sisi Lain Realita
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.347 KB) | DOI: 10.25299/sisilainrealita.2016.vol1(2).1377

Abstract

Air pollution from motor vehicles is very dangerous for human survival, especially for health. Air polluters are the people themselves. Communities become the main actors in the spread of pollution through the use of motor vehicles. Substances released from motor vehicles damage public health. Without realizing the people who become the actors at the same time become victims of air pollution. This is called a crime without a victim, the perpetrator and the victim are the same person. But on the other hand, despite the existing laws that regulate the law in environmental crimes, this crime is actually very difficult to prove. In addition to the perpetrators of pollution is also a victim, the victim of pollution is not aware of himself as the only victim who will lose health. The offender will feel his actions are legal to do. So it is necessary step integration of all parties to solve the crime without this victim.
Analisis Keadilan Restoratif dalam Kasus Penghinaan Presiden Jokowi oleh Anak di Bawah Umur Chazizah Gusnita; Marvive Viano; Putri Puspita; Yosafat Kevin
Deviance Jurnal kriminologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.958 KB) | DOI: 10.36080/djk.v2i1.875

Abstract

Anak yang berhadapan dengan hukum sedikit banyak mengalami perasaan traumatis akibat kejahatan yang terjadi, baik sebagai pelaku maupun korban. Apalagi dampak teknologi saat ini membuat kejahatan dapat dengan mudah diketahui masyarakat luas. Kombinasi antara anak yang melakukan kejahatan dan informasi kejahatannya yang cepat diketahui orang banyak akan sangat mungkin mempengaruhi masa depan anak, baik dari segi sosial, mental, dan psikis. Ujaran kebencian merupakan salah satu kejahatan yang paling sering kita temui di internet dan beberapa dilakukan oleh anak di bawah umur. Laporan ini menganalisis keadilan restorative yang dilalui oleh seorang anak di BRSAMPK Handayani dengan kasus ujaran kebencian yang ditujukan kepada presiden. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen untuk melengkapi data primer sebelumnya. Hasilnya, BRSAMPK Handayani sebagai balai rehabilitasi telah menjalankan prosedur rehabilitasi menurut UU. No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Proses ini menjadi prioritas BRSAMPK Handayani agaranak dapat kembali menjalani kehidupan bermasyarakat.
Kekerasan Simbolik Berita Kriminal di Media Massa Chazizah Gusnita
Deviance Jurnal kriminologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1969.289 KB) | DOI: 10.36080/djk.v1i1.593

Abstract

Violence is not only done physically but can also be symbolic. Symbolic violence is the meaning, logic and beliefs that are biased but subtly and vaguely imposed on the other as true. Symbolic violence is based on a long-established and socially long-standing social expectations and beliefs. Coercion is done smoothly and vaguely so that the public does not realize and feel it as coercion. By hiding the violence, it is hoped that the symbolic violence can be accepted by the audience as something reasonable. Symbolic violence by the media in the form of language, symbols, text, images, and other mass media attributes. Mass media is able to form labeling, stigma, new discourse in society by doing such symbolic violence. The worst thing is that perpetrators and victims of symbolic violence are not aware of the spread of this "crime". Finally, symbolic violence is perpetuated in society and is even considered to be legitimate.
Analisis Cyber Bullying Berbasis Teknik Netralisasi (Techniques of Neutralization) melalui Smartphone pada Pelajar SMA di Pesanggrahan, Jakarta Lucky Nurhadiyanto; Chazizah Gusnita; Tulus Yuniasih
Deviance Jurnal kriminologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.661 KB) | DOI: 10.36080/djk.v2i1.877

Abstract

Penelitian ini memfokusan kajiannya pada analisis cyber bullying berbasis teknik netralisasi (techniques of neutralization) melalui smartphone pada pelajar SMA di Pesanggrahan, Jakarta. Cyber bullying melalui smartphone seringkali tidak dianggap sebagai bentuk kejahatan atau penyimpangan sosial. Pemakluman terhadap cyber bullying memiliki keterkaitan dengan ragam tipe teknik netralisasi. Oleh karena itu, identifikasi masalah meliputi perilaku cyber bullying dan tipe teknik netralisasi yang melibatkan pelaku, korban, dan saksi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis proses cyber bullying berbasis teknik netralisasi melalui smartphone dan menggambarkan cyber bullying secara umum di masyarakat. Indikator penelitian mencakup pengguna dan pengakses, materi berkonten cyber bullying, dan klasifikasi tipe teknik netralisasi. Tahapan penelitian ini merupakan rangkaian proses yang mencakup pengamatan awal, perumusan masalah penelitian, penetapan lokasi penelitian, penyusunan instrumen pengumpulan data primer, survei lapangan, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Tahapan pengamatan awal dilaksanakan melalui observasi dan kajian kepustakaan. Hasil pengamatan awal berupa pemetaan kondisi SMA di Pesanggrahan Jakarta, permasalahan yang dihadapi masyarakat muda, kekinian medium dan pola interaksi di antara generasi muda di SMA di Pesanggrahan Jakarta. Survei lapangan dilakukan menggunakan teknik observasi partisipasif, wawancara terstruktur, dan focus group discussion (FGD). Analisis data dilakukan melalui teknik analisis diskursus dan konten. Penelitian ini akan berlangsung selama 1 tahun (12 bulan). Luaran utama yaitu luaran wajib berupa publikasi ilmiah dalam jurnal nasional tidak terakreditasi.
KERJA SAMA INDONESIA – MALAYSIA DALAM PENEGAKAN HUKUM KEJAHATAN TRANSNASIONAL KHUSUSNYA PERDAGANGAN MANUSIA Chazizah Gusnita
Transnasional Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.348 KB)

Abstract

Transnational crime is a major crime due to its impact towards society in general and the state. The geographical aspect of ASEAN becomes the major factor of increasing number of transnational crime, especially those happen between Indonesia and Malaysia. These neighboring countries has boundaries prone to such crime activities, especially human trafficking. Even though the international law has been intact, human trafficking in Asia keeps happening. Cooperation to prevent human trafficking is needed by tightening surveilance at the border areas. The other effort to be done is by providing sophisticated facilities for the surveilance actions, so that the residents of the border areas could participate in the cooperation programmes.
Fenomena Pernikahan Anak Usia Dini sebagai Penyimpangan Budaya Indonesia Chazizah Gusnita
IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7 No 2 (2023): IKRAITH-HUMANIORA Vol 7 No 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-humaniora.v7i2.2287

Abstract

Indonesia has many cultures that are prone to violence and deviation. This problembecomes an important focus in this study because this cultural’s deviation involved childrenin it. Indonesia has the second highest child marriage rate in ASEAN after Cambodia andranks 37th overall in the world. This study described the circumstances, conditions,situations, events, and activities as well as the support of community leaders in legalizingearly childhood marriage in South Nias as a case study. The phenomenon of early marriageculture in South Nias, especially in Hilinamoniha village, is still happening and has becomea natural and normal thing for the local community. Adat which is still very strong shiftsthe position of the government as the highest peak of power in a village. Traditional leadersas customary holders who give permission for a marriage to take place are the key for thecommunity to continue to be brave and willing to marry off their children must be underage.Parents who marry off their children are also another major factor in the occurrence of earlymarriage. This research uses rational theory with qualitative descriptive method
Fenomena Pernikahan Usia Dini Terhadap Ibu Pelaku Kekerasan Pada Anak Di Desa Rengasjajar, Kecamatan Cigudeg, Bogor Chazizah Gusnita; Winna Faradilla Nulhakim
Deviance Jurnal kriminologi Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.v1i2.2155

Abstract

This qualitative research aims to analyze the factors causing the violence that is done by mother to child. This research was conducted in Rengasjajar village area, Cigudeg sub-district, Bogor. Early marriage has been a matter of great concern to this day. Factors that are usually the reason for early marriage include economic factors, educational factors, and stigma factors. Early marriage is very risky both in physical and mental health. In this study, researchers used Structural Victorian Theory and Social Conversion Theory. Early marriage causes unpreparedness to be a mother at a young age resulting in foster parenting errors by using violence. Violence includes verbal violence to physical violence. The results of this research is the stigma that makes teenagers afraid to not believe that says that women are not married at the age of 18 years old then it will be considered as an old maiden and it greatly affect the mindset of teenagers and make them to do early age marriage, people parents feel that violence in educating children may be done because parents have a right to it, control in the household is necessary because the control as a foundation to know the limits of not doing irregularities in this case violence to children both physical violence and verbal violence
Pola Pelecehan Seksual pada Anak dalam Situasi Bencana Alam (Studi Kasus Gempa Palu 2018) Annisa Gustiani; Chazizah Gusnita
Deviance Jurnal kriminologi Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.v4i2.2208

Abstract

Pada pasca bencana alam ada kelompok yang paling rentan terdampak salah satunya adalah anak-anak. Secara fisik dan mental anak-anak masih dalam masa pertumbuhan dan masih sangat bergantung pada orang dewasa. Anak-anak yang minim pengetahuan atau pembelajaran menjadi anak rentan. Mengalami kejadian bencana alam seperti gempa dan tsunami membuat anak-anak bahkan orang dewasa mengalami trauma yang sangat mendalam. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori aktivitas rutin karena dalam teori ini dapat menjelaskan mengenai proses seseorang menjadi korban kejahatan. Teori ini juga mempelajari tentang bagaimana aktivitas rutin dapat menciptakan kesempatan dan juga mempengaruhi seseorang untuk berbuat kejahatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengumpulkan data wawancara dan data literatur berupa jurnal. Faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual dalam kondisi pasca bencana adalah kurangnya pengawasan orang tua, adanya gangguan berupa gangguan ekonomi dan gangguan psikis, dan tidaknya adanya pemisahan antara perempuan dan laki-laki di fasilitas yang tersedia di lokasi kejadian. Bentuk pelecehan seksual yang sering terjadi adalah pengintipan di kamar mandi, percobaan pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga.