Komarudin Sassi
Universitas Al-Qur’an Al Ittifaqiah (UQI)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

URGENSI TSABAT DALAM Q.S. AL-ANKABUT: 2-4 DI TENGAH DISRUPSI TEKNOLOGI DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE Nur Janah; Komarudin Sassi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11657

Abstract

ABSTRACT The rapid development of digital technology and Artificial Intelligence (AI) has created new challenges for the religious life of Muslims, including information overload, digital identity crises, religious misinformation, and social pressures that may affect the quality of faith among Muslim generations. This study aims to analyze the concept of tsabat (steadfastness) in Q.S. Al-Ankabut verses 2–4, examine its relevance to the challenges posed by technological disruption and AI, and explore its implications for Islamic education. This research employed a qualitative library research approach using the thematic (maudhu‘i) interpretation method. Primary data were obtained from the Qur’an, Tafsir Al-Mishbah, and Tafsir Al-Azhar, while secondary data were drawn from scholarly articles and relevant literature. The findings reveal that tsabat represents steadfast faith developed through trials (fitnah) as a divine law (sunnatullah) to distinguish genuine believers from those who merely profess faith. In the contemporary context, technological advancement and AI can be understood as modern forms of faith-testing that require spiritual resilience, moral integrity, and critical thinking. The study concludes that the values of tsabat possess significant pedagogical relevance as a foundation for developing students’ character, enabling them to become adaptive, ethical, and responsible users of technology in accordance with Islamic values. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan berbagai tantangan baru bagi kehidupan keagamaan umat Islam, terutama berupa banjir informasi, krisis identitas digital, hoaks keagamaan, dan tekanan sosial yang berpotensi memengaruhi kualitas keimanan generasi Muslim. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep tsabat dalam Q.S. Al-Ankabut ayat 2–4, mengidentifikasi relevansinya terhadap tantangan era disrupsi teknologi dan AI, serta mengkaji implikasinya bagi pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan dan metode tafsir tematik (maudhu‘i). Sumber data primer meliputi Al-Qur’an, Tafsir Al-Mishbah, dan Tafsir Al-Azhar, sedangkan data sekunder berasal dari artikel ilmiah dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tsabat merupakan keteguhan iman yang dibentuk melalui proses ujian (fitnah) sebagai sunnatullah untuk membedakan antara orang yang benar-benar beriman dan yang hanya mengaku beriman. Dalam konteks kontemporer, perkembangan teknologi dan AI dapat dipahami sebagai bentuk ujian keimanan yang menuntut resiliensi spiritual, integritas moral, dan kemampuan berpikir kritis. Temuan ini menegaskan bahwa nilai tsabat memiliki relevansi pedagogis sebagai landasan pembentukan karakter peserta didik yang adaptif, berakhlak, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi sesuai dengan nilai-nilai Islam.
MEKANISME PSIKO-SPRITUAL PRAKTIK DO’A NABI ZAKARIA DALAM QS. MARYAM AYAT 3–4 SEBAGAI JIWA AGAMA Fitri Andriyani; Komarudin Sassi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11917

Abstract

ABSTRAK Prayer is a fundamental act of worship in Islam; however, studies on Prophet Zakaria’s prayer in Q.S. Maryam verses 3–4 have predominantly focused on the miracle of Prophet Yahya’s birth and moral exemplification, while the psycho-spiritual mechanisms embedded within the structure of the prayer remain underexplored. This study aims to analyze the psycho-spiritual dimensions of Prophet Zakaria’s prayer and to explain how Q.S. Maryam verses 3–4 affirm prayer as the soul and essence of religion. Employing a qualitative approach through library research, the study uses Q.S. Maryam verses 3–4 and the exegeses of Ibn Kathir and M. Quraish Shihab as primary sources, complemented by relevant scholarly literature on prayer, Islamic spirituality, and Islamic psychology. Data were analyzed using the thematic interpretation (tafsīr mawḍū‘ī) method with a psycho-spiritual perspective. The findings reveal three major dimensions: sincerity and intimacy with Allah through nidā’an khafiyyan (a private supplication), awareness of human limitation through the acknowledgment of physical weakness, and spiritual optimism reflected in the phrase lam akun bi-du‘ā’ika rabbi shaqiyyan. These findings demonstrate that prayer functions as an expression of faqr (spiritual poverty), a means of developing spiritual resilience, and a pathway to attaining qurb (closeness to Allah). Therefore, Q.S. Maryam verses 3–4 affirm prayer as the spiritual core of worship and the very essence of religion in Islam. ABSTRAK Doa merupakan inti penghambaan dalam Islam, namun kajian tentang doa Nabi Zakaria dalam Q.S. Maryam ayat 3–4 masih lebih banyak difokuskan pada aspek mukjizat kelahiran Nabi Yahya dan keteladanan spiritual, sementara mekanisme psiko-spiritual yang terkandung di dalam struktur doanya belum banyak dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme psiko-spiritual dalam doa Nabi Zakaria serta menjelaskan bagaimana Q.S. Maryam ayat 3–4 meneguhkan doa sebagai jiwa dan hakikat agama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Data primer berupa Q.S. Maryam ayat 3–4 dan kitab tafsir Ibnu Katsir serta Tafsir Al-Mishbah, sedangkan data sekunder berasal dari berbagai literatur ilmiah terkait doa, spiritualitas Islam, dan psikologi Islam. Analisis dilakukan menggunakan metode tafsir tematik (tafsīr mawḍū‘ī) dengan pendekatan psiko-spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doa Nabi Zakaria memuat tiga dimensi utama, yaitu keikhlasan dan kedekatan dengan Allah melalui nidā’an khafiyyan, kesadaran akan keterbatasan diri melalui pengakuan kelemahan fisik, serta optimisme spiritual melalui ungkapan lam akun bi-du‘ā’ika rabbi shaqiyyan. Temuan ini menegaskan bahwa doa berfungsi sebagai ekspresi faqr, sarana membangun resiliensi spiritual, dan jalan mencapai qurb kepada Allah. Dengan demikian, Q.S. Maryam ayat 3–4 meneguhkan doa sebagai ruh penghambaan dan hakikat agama dalam Islam.