Abstrak: Pengelolaan dana infak di masjid pedesaan masih menghadapi kendala pencatatan manual menggunakan amplop dan buku yang rawan salah dicatat serta kurang transparan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat literasi infak digital dan menanamkan nilai karakter amanah, tanggung jawab, dan kejujuran pada pemuda pengelola masjid di Desa Mekarsari, Kabupaten Sumedang, melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Arabic for Specific Purposes (ASP). Pelaksanaan kegiatan melibatkan 25 peserta dari enam masjid dan berlangsung pada 31 Mei 2026 di Balai Desa Mekarsari, dengan metode partisipatif berupa sosialisasi, pelatihan praktik pembuatan akun QRIS berbahasa Arab, simulasi transaksi digital, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), serta pendampingan pelaporan keuangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman literasi infak sebesar 72,7% (skor pre-test 4,40 menjadi post-test 7,36). Sebanyak 80% peserta mampu menyusun pesan komunikasi infak bilingual, 100% berhasil menghasilkan SOP pengelolaan infak, 80% mampu memahami alur infak digital, dan 100% berkomitmen menerapkan nilai amanah, tanggung jawab, serta kejujuran. Testimoni peserta dan dukungan tokoh masyarakat mengonfirmasi dampak positif serta prospek keberlanjutan program. Integrasi PAR dan ASP terbukti efektif dalam memperkuat literasi infak digital sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter. Model ini direkomendasikan untuk direplikasi di komunitas masjid lain guna mewujudkan tata kelola dana umat yang profesional, transparan, dan berkarakter.Abstract: The management of infak funds in rural mosques still faces challenges due to manual record-keeping using envelopes and ledgers, which is prone to errors and lacks transparency. This community service activity aims to strengthen digital donation literacy and instill the character values of trustworthiness, responsibility, and honesty in the young mosque managers in Mekarsari Village, Sumedang Regency, through the Participatory Action Research (PAR) and Arabic for Specific Purposes (ASP) approaches. The implementation of this activity involved 25 participants from six mosques. It took place on May 31, 2026, at the Mekarsari Village Hall, using participatory methods such as outreach, practical training on creating Arabic-language QRIS accounts, digital transaction simulations, the development of Standard Operating Procedures (SOPs), and guidance on financial reporting. The results of the activity showed a 72.7% increase in understanding of infak literacy (pre-test score of 4.40 to post-test score of 7.36). 80% of participants were able to draft bilingual infak communication messages; 100% successfully developed SOPs for infak management; 80% understood the digital infak process; and 100% committed to applying the values of amanah, tanggung jawab, and kejujuran. Testimonials from participants and support from community leaders confirm the program’s positive impact and prospects for sustainability. The integration of PAR and ASP has proven effective in strengthening digital infak literacy while instilling character values. This model is recommended for replication in other mosque communities to achieve professional, transparent, and character-driven management of community funds.