Kapal kayu masih menjadi sarana utama yang digunakan oleh nelayan tradisional di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, dalam kegiatan penangkapan ikan. Namun, penurunan kualitas struktur kapal akibat paparan lingkungan laut menyebabkan meningkatnya risiko retakan dan kebocoran lambung yang sering kali sulit dideteksi pada tahap awal. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keselamatan operasional nelayan dan meningkatkan risiko kerusakan kapal serta peralatan penangkapan ikan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan nelayan melalui pendampingan penerapan sistem monitoring dini kebocoran lambung kapal kayu berbasis sensor DHT22. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Approach (PAA) yang meliputi identifikasi permasalahan, analisis kebutuhan, perancangan sistem, pelatihan, pendampingan implementasi, serta evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata nilai peserta dari 30 pada pretest menjadi 85 pada posttest, sedangkan pengujian fungsional sistem menunjukkan tingkat keberhasilan deteksi sebesar 90% terhadap skenario uji yang dirancang. Peserta juga mampu memahami prinsip kerja sensor, melakukan instalasi perangkat, serta mengoperasikan sistem monitoring secara mandiri. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis transfer teknologi dapat meningkatkan kapasitas nelayan dalam mengadopsi teknologi sederhana sebagai sistem peringatan dini kebocoran lambung kapal. Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dengan mengintegrasikan sensor pendeteksi air secara langsung dan sistem Internet of Things (IoT) untuk pemantauan kondisi kapal secara real-time.