Latar belakang: Status gizi merupakan salah satu indikator kesehatan yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat termasuk remaja. Pada usia ini, tubuh mengalami perubahan besar, terdiri dari perubahan komposisi tubuh dan perubahan hormonal yang memengaruhi kebutuhan gizi. Program ABSB memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda Indonesia dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional. Tujuan Penelitian: Mengevaluasi efektifitas hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan dengan mengukur pengetahuan siswa tentang status gizi, riwayat pengecheckan kadar HB, dan faktor resiko status gizi buruk pada remaja. Metode Penelitian: Mix methode (kuantitatif dengan desain crossectional dan kualitatif eksplanatori). Lokasi penelitian dilakukan di 15 sekolah yang berada dibawah Yayasan Muhammadiyah dan 4 orang informan. Hasil Penelitian: jumlah laki-laki sebanyak 7,9% dan 92,1% perempuan. Dari 33 pernyataan pengetahuan, 21 item (63,6%) diantaranya jawaban sudah sesuai, 10 item (30,3%) jawaban cukup sesuai dan 2 item (0,61%) jawaban kurang sesuai. Berdasarkan hasil pengukuran kadar HB siswa sekolah Muhammadiyah, diperoleh hasil pemeriksaan yang sangat baik, karena rata-rata kadar HB siswa/i sudah memenuhi standar ukuran zat besi remaja. Ditinjau dari hasil indepth interview informan, diketahui bahwa pengetahuan siswa masih kurang baik terkait gizi seimbang, anemi dan pemeriksaan HB. Kesimpulan: Pelaksanaan program lanjutan dari ABSB tidak berjalan sesuai harapan, karena kekurangan pendanaan dan kondisi sekolah sedang di renovasi.