Fx. Wahyu Widiantoro
Fakultas Psikologi UP45 Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RESILIENSI RELASIONAL DAN FLOURISHING PERSONEL BRIMOB: SEBUAH STUDI FENOMENOLOGI KEHARMONISAN KELUARGA Dania Ulfah Rahmawati; Fx. Wahyu Widiantoro
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11353

Abstract

  ABSTRACT Few studies have explored the dyadic experiences of Brimob personnel and their spouses in building relational resilience when facing high-risk assignments. This study aims to understand how family harmony helps personnel of the Mobile Brigade Corps (Brimob) of the Indonesian National Police cope with work pressure, distance from family, and uncertainty during deployment. This study employed a qualitative approach with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) design. The participants consisted of four married couples, including four Brimob personnel and their spouses, who were selected purposively based on their experience of high-risk operational assignments. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and analyzed systematically to identify patterns of meaning in the participants’ experiences. The findings revealed three main themes. First, the family served as a safe space for personnel to recover, release the pressure of their operational role, and return to their roles as spouses and parents. Second, calm, empathic, and mutually understanding communication helped reduce psychological burden during deployment. Third, spiritual meaning-making of duty enabled families to better accept risk, distance, and uncertainty as part of shared service. These findings indicate that family harmony functions as a mechanism of relational resilience that is jointly constructed by personnel and their spouses. The study highlights the importance of family-based mental health support to strengthen the well-being of Brimob personnel. ABSTRAK Belum banyak studi yang menggali pengalaman diadik antara personel Brimob dan pasangan dalam membangun resiliensi relasional ketika menghadapi penugasan berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana keharmonisan keluarga membantu personel Brigade Mobil (Brimob) Polri menghadapi tekanan kerja, jarak dengan keluarga, dan ketidakpastian selama penugasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Partisipan terdiri atas empat pasangan suami-istri, yaitu empat personel Brimob dan empat pasangan, yang dipilih secara purposif berdasarkan pengalaman penugasan operasi berisiko tinggi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur mendalam dan dianalisis secara bertahap untuk menemukan pola makna dalam pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, keluarga menjadi ruang aman bagi personel untuk memulihkan diri, melepas tekanan peran operasional, dan kembali menjalankan peran sebagai pasangan maupun orang tua. Kedua, komunikasi yang tenang, empatik, dan saling memahami membantu mengurangi beban psikologis selama masa penugasan. Ketiga, pemaknaan spiritual terhadap tugas membuat keluarga lebih mampu menerima risiko, jarak, dan ketidakpastian sebagai bagian dari pengabdian bersama. Temuan ini menunjukkan bahwa keharmonisan keluarga berperan sebagai mekanisme resiliensi relasional yang dibangun secara bersama oleh personel dan pasangan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya dukungan kesehatan mental berbasis keluarga untuk memperkuat kesejahteraan personel Brimob.
RESILIENSI MENUJU FLOURISHING REMAJA DI KOTA PERADABAN WASIOR: SEBUAH STUDI FENOMENOLOGI INTERPRETATIF Dwita Astria Bagre; Fx. Wahyu Widiantoro
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12815

Abstract

This study aims to explore the dynamics of resilience and mental health among adolescents in the "City of Civilization," Wasior, West Papua. As a region with a significant historical-spiritual legacy through the prophecies of I.S. Kijne, adolescents in Wasior face challenges related to cultural transition, digital information access, and social risks such as alcohol consumption. Utilizing Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) with an idiographic approach, this research involved six native Wondama adolescents selected through snowball sampling. Data were collected via participant observation, in-depth interviews, and source triangulation. The thematic analysis identified four superordinate themes: (1) The Voice of Aitumeiri as an internalization of the city’s civilized identity; (2) Beachfront dynamics reflecting the conflict between escapism and productivity; (3) The safety net of the "Great House" as a form of collective family support; and (4) The vision of a new dawn illustrating aspirations for optimal functioning. The findings indicate that the resilience of Wasior's adolescents stems from strong cultural identity and spirituality, serving as an emotional anchor in achieving a state of flourishing. This study recommends the importance of mental health interventions based on indigenous wisdom to support the psychological functioning of adolescents in remote areas. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam dinamika resiliensi dan kesehatan mental remaja di Kota Peradaban Wasior, Papua Barat. Sebagai wilayah dengan beban historis-spiritual yang kuat melalui nubuatan I.S. Kijne, remaja di Wasior menghadapi tantangan transisi budaya, akses informasi digital, dan risiko sosial seperti konsumsi minuman keras. Menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dengan pendekatan idiografis, penelitian ini melibatkan enam remaja asli Wondama yang dipilih melalui teknik snowball sampling. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan triangulasi sumber. Hasil analisis mengungkap empat tema induk, yaitu: (1) Suara dari Aitumeiri sebagai bentuk internalisasi makna kota peradaban; (2) Dinamika pinggiran pantai yang merefleksikan konflik antara eskapisme dan produktivitas; (3) Jaring pengaman di rumah besar sebagai bentuk dukungan keluarga kolektif; serta (4) Visi fajar baru yang menggambarkan aspirasi keberfungsian optimal. Temuan menunjukkan bahwa resiliensi remaja Wasior bersumber dari identitas kultural dan spiritualitas yang kuat, yang berfungsi sebagai jangkar emosional dalam mencapai kondisi flourishing. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya intervensi kesehatan mental berbasis kearifan lokal guna mendukung keberfungsian psikologis remaja di wilayah terpencil.    
PSYCHOLOGICAL CAPITAL DAN RESILIENSI INOVATIF SEBAGAI PREDIKTOR FLOURISHING: STUDI FENOMENOLOGI PADA PEMILIK BIRO PERJALANAN JTC Ade Satria Kurniawan; Fx. Wahyu Widiantoro
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12817

Abstract

This study aims to explore in depth the dynamics of Psychological Capital (PsyCap) and its role in fostering innovative resilience among travel agency owners in Yogyakarta affiliated with the Jogja Travel Community (JTC) ecosystem. Amidst massive tourism disruption, the strength of internal psychological capital has become a primary determinant of business sustainability. Employing a qualitative method with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) design, data were gathered through in-depth semi-structured interviews with six travel agency owners. The results reveal that the HERO pillars (Hope, Efficacy, Resilience, and Optimism) work synergistically to form a creative agency, enabling participants to transform their business models from conventional to digital and niche markets. Key findings indicate that JTC serves as a "psychological anchor" mediating the process of collective meaning-making and positive contagion among members. The integration of individual psychological strengths and community support leads entrepreneurs to a state of flourishing, where crises are integrated as part of eudaimonic growth and the discovery of new life meaning. This research provides significant implications for strengthening positive organizational psychology literature and strategies for developing mental resilience for tourism industry players. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam dinamika Psychological Capital (PsyCap) dan perannya dalam mendorong resiliensi inovatif pada pemilik biro perjalanan di Yogyakarta yang tergabung dalam ekosistem Jogja Travel Community (JTC). Di tengah disrupsi pariwisata yang masif, kekuatan modal psikologis internal menjadi determinan utama keberlangsungan usaha. Menggunakan metode kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur mendalam terhadap enam pemilik biro perjalanan. Hasil penelitian mengungkap bahwa pilar-pilar HERO (Hope, Efficacy, Resilience, dan Optimism) bekerja secara sinergis membentuk creative agency yang memungkinkan partisipan melakukan transformasi model bisnis dari konvensional ke digital dan minat khusus. Temuan kunci menunjukkan bahwa JTC berperan sebagai "jangkar psikologis" yang memediasi proses meaning-making kolektif dan penularan positif (positive contagion) antar anggota. Integrasi antara kekuatan psikologis individu dan dukungan komunitas membawa para pelaku usaha mencapai kondisi flourishing, di mana krisis diintegrasikan sebagai bagian dari pertumbuhan eudaimonik dan penemuan makna hidup baru. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi penguatan literatur psikologi organisasi positif dan strategi pengembangan ketangguhan mental bagi pelaku industri pariwisata.    
STUDI FENOMENOLOGIS TENTANG PERJUANGAN MENJAGA FLOURISHING PADA DOKTER DI RSUD KAB.KEEROM, PAPUA Rahmatia Rustam; Fx. Wahyu Widiantoro
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12819

Abstract

This study explores the psychological dynamics of physicians serving in the border region of Indonesia, specifically at Keerom Hospital in Papua. Physicians in peripheral areas face a dual workload that encompasses medical occupational risks as well as emotional stress resulting from limited facilities and geographical barriers. This study aims to understand how emotional exhaustion is experienced by these physicians and how they strive toward flourishing amidst such limitations. Utilizing a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), data were collected through light shadowing observations and in-depth interviews with four physicians (N = 4) who have served for at least two years in Papua. The results identified five main superordinate themes: (1) Emotional Numbing mechanisms as a coping strategy against secondary trauma; (2) Systemic Dual Frustration stemming from the gap between competence and available facilities; (3) Identity Shifting as an effort to separate professional and personal roles; (4) Transcendental Meaning-Making through the spiritualization of their service; and (5) Communal Flourishing derived from the genuine appreciation of the local community. The findings indicate that flourishing among physicians in extreme regions does not result from the absence of stressors, but rather from the ability to transform the meaning of their service. This study recommends the need for a mental support system based on spiritual and relational values for medical personnel in remote areas. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi dinamika psikologis dokter yang bertugas di wilayah perbatasan Indonesia, tepatnya di RSUD Kab. Keeroom, Papua. Para dokter di wilayah perifer menghadapi beban kerja ganda yang mencakup risiko okupasional medis serta tekanan emosional akibat keterbatasan fasilitas dan hambatan geografis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kelelahan emosional (emotional exhaustion) dihayati oleh para dokter dan bagaimana mereka mengupayakan kondisi flourishing (kebermekaran jiwa) di tengah keterbatasan tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), data dikumpulkan melalui observasi shadowing ringan dan wawancara mendalam terhadap empat dokter (N=4) yang telah bertugas minimal dua tahun di Papua. Hasil penelitian mengidentifikasi lima tema induk utama: (1) Mekanisme Emotional Numbing sebagai strategi bertahan dari trauma sekunder; (2) Frustrasi Ganda Sistemik akibat kesenjangan antara kompetensi dan fasilitas; (3) Identity Shifting sebagai upaya memisahkan peran profesional dan personal; (4) Transcendental Meaning-Making melalui spiritualisasi tugas pengabdian; dan (5) Communal Flourishing yang bersumber dari apresiasi tulus masyarakat lokal. Temuan menunjukkan bahwa flourishing pada dokter di wilayah ekstrem bukan dihasilkan dari ketiadaan stresor, melainkan dari kemampuan melakukan transformasi makna terhadap pengabdian mereka. Penelitian ini merekomendasikan perlunya sistem dukungan mental yang berbasis pada nilai-nilai spiritual dan relasional bagi tenaga medis di daerah terpencil.    
DINAMIKA FLOURISHING PEREMPUAN DEWASA DALAM KOMUNITAS PLUS-SIZE JOGJAKARTA Ajeng Winda Adhita; Fx. Wahyu Widiantoro
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13111

Abstract

Plus-size women with extreme body proportions often experience acute psychological distress due to weight bias internalization driven by macro-sociocultural stigma. This study aims to deeply explore how active involvement in an inclusive community can deconstruct this stigma and lead its members to achieve a state of optimal functioning (flourishing). Utilizing a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), primary data were gathered through in-depth interviews with five adult women (aged 26–40 years, weighing 102–127 kg) who are active members of the Jogjakarta Plus-Size Community. The analysis revealed two main superordinate themes: (1) Deconstruction of internalized weight bias through a safe space, where unconditional positive regard and positive mirroring successfully restored the subjects' self-esteem; and (2) Reclamation of agency and aesthetic activism as a catalyst for flourishing, where involvement in modeling training, cosmetics, and public fashion exhibitions triggered enclothed cognition effects that restored self-autonomy and activated all pillars of well-being (PERMA model). This study concludes that achieving flourishing status does not require a reduction in physical size, but rather a radical reconstruction of self-worth within an inclusive ecosystem. ABSTRAK Perempuan dengan proporsi tubuh plus-size ekstrem sering kali mengalami distresi psikologis akut akibat internalisasi bias berat badan (weight bias internalization) yang dipicu oleh stigma sosiokultural makro. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana keterlibatan aktif dalam komunitas inklusif dapat mendekonstruksi stigma tersebut dan mengantarkan anggotanya mencapai status keberfungsian optimal (flourishing). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif jenis Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), data primer diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima orang perempuan dewasa (usia 26–40 tahun, berat badan 102–127 kg) yang merupakan anggota aktif Komunitas Plus-Size Jogjakarta. Hasil analisis menunjukkan dua tema superordinat utama: (1) Dekonstruksi internalized weight bias melalui ruang aman (safe space), di mana penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) dan efek cermin positif (positive mirroring) berhasil memulihkan harga diri subjek; dan (2) Reklamasi agensi dan aktivisme estetika sebagai katalis flourishing, di mana keterlibatan dalam pelatihan modelling, tata rias, dan eksibisi busana publik memicu efek enclothed cognition yang memulihkan otonomi diri dan mengaktifkan seluruh pilar kesejahteraan (model PERMA). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencapaian status flourishing tidak mensyaratkan reduksi ukuran fisik, melainkan melalui rekonstruksi radikal atas kelayakan diri di dalam ekosistem yang inklusif.