Latar Belakang: Gout arthritis merupakan bentuk radang sendi akibat akumulasi kristal monosodium urat yang dipicu oleh peningkatan kadar asam urat dalam tubuh. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya hiperurisemia adalah pola makan yang kaya purin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kadar asam urat pada penderita gout arthritis di RSUD Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 44 responden penderita gout arthritis yang menjalani pemeriksaan/perawatan di RSUD Jailolo yang didapatkan secara accidental sampling. Data pola makan diperoleh menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan data kadar asam urat diperoleh dari laboratorium di rekam medis. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Penelitian menunjukkan sebagian besar responden dengan pola makan tinggi purin (54.4%) dan dengan kadar asam urat tinggi (75%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsumsi purin dengan kadar asam urat pada penderita gout arthritis (p = 0.036, p < 0.05). Kesimpulan: Tingginya kadar asam urat pada responden dengan konsumsi purin rendah–sedang menunjukkan bahwa pengendalian hiperurisemia tidak dapat dicapai melalui pengaturan diet saja. Modifikasi pola makan tetap merupakan bagian penting dalam pengelolaan gout artritis. Pengelolaan klinis perlu menekankan pendekatan komprehensif yang mencakup edukasi pasien, peningkatan kepatuhan terhadap terapi farmakologis, serta pengendalian faktor risiko lain yang berkontribusi terhadap peningkatan kadar asam urat.