Asih Utami
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Palangka Raya, Kota Palangkaraya, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Miskonsepsi Siswa SD pada Materi Luas dan Keliling Bangun Datar Persegi dan Persegi Panjang Trimeila Rosa; Nabilla Nabilla; Melda Melda; Asih Utami; Fakhrunnisa Cahya Afifi
JIMAT: Jurnal Ilmiah Matematika Vol 7 No 2 (2026): April-Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63976/jimat.v7i2.1403

Abstract

Rendahnya literasi matematika siswa sekolah dasar di Indonesia menjadi indikasi perlunya identifikasi miskonsepsi sejak dini, khususnya pada materi geometri dasar yang bersifat fundamental. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk miskonsepsi siswa kelas V sekolah dasar pada materi luas dan keliling bangun datar persegi dan persegi panjang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan instrumen four-tier diagnostic test yang terdiri dari empat soal, masing-masing mencakup pilihan jawaban, tingkat keyakinan jawaban, alasan jawaban, dan tingkat keyakinan alasan. Instrumen divalidasi secara deskriptif oleh dua ahli pendidikan matematika dan diuji reliabilitasnya menggunakan koefisien Cronbach Alpha (α = 0,78). Subjek penelitian adalah 24 siswa kelas V SD Negeri 1 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria telah menyelesaikan pembelajaran materi luas dan keliling bangun datar. Hasil analisis menunjukkan bahwa 79,16% siswa berada pada kategori pencapaian cukup rendah hingga sangat rendah (cukup rendah: 20,83%; rendah: 37,5%; sangat rendah: 20,83%), yang mengindikasikan tingginya prevalensi miskonsepsi pada materi ini. Tiga jenis miskonsepsi dominan yang teridentifikasi adalah: (1) kerancuan konseptual dalam membedakan luas dan keliling; (2) kesalahan penerapan rumus secara mekanis tanpa pemahaman makna konsep; dan (3) ketidakmampuan membedakan satuan panjang (cm) dengan satuan luas (cm²). Temuan ini menegaskan perlunya pembelajaran berbasis representasi konkret, pendekatan kontekstual, dan penerapan asesmen diagnostik berkelanjutan untuk mendeteksi serta menangani miskonsepsi sejak tingkat pendidikan dasar.