Rendahnya literasi matematika siswa sekolah dasar di Indonesia menjadi indikasi perlunya identifikasi miskonsepsi sejak dini, khususnya pada materi geometri dasar yang bersifat fundamental. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis bentuk-bentuk miskonsepsi siswa kelas V sekolah dasar pada materi luas dan keliling bangun datar persegi dan persegi panjang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan instrumen four-tier diagnostic test yang terdiri dari empat soal, masing-masing mencakup pilihan jawaban, tingkat keyakinan jawaban, alasan jawaban, dan tingkat keyakinan alasan. Instrumen divalidasi secara deskriptif oleh dua ahli pendidikan matematika dan diuji reliabilitasnya menggunakan koefisien Cronbach Alpha (α = 0,78). Subjek penelitian adalah 24 siswa kelas V SD Negeri 1 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria telah menyelesaikan pembelajaran materi luas dan keliling bangun datar. Hasil analisis menunjukkan bahwa 79,16% siswa berada pada kategori pencapaian cukup rendah hingga sangat rendah (cukup rendah: 20,83%; rendah: 37,5%; sangat rendah: 20,83%), yang mengindikasikan tingginya prevalensi miskonsepsi pada materi ini. Tiga jenis miskonsepsi dominan yang teridentifikasi adalah: (1) kerancuan konseptual dalam membedakan luas dan keliling; (2) kesalahan penerapan rumus secara mekanis tanpa pemahaman makna konsep; dan (3) ketidakmampuan membedakan satuan panjang (cm) dengan satuan luas (cm²). Temuan ini menegaskan perlunya pembelajaran berbasis representasi konkret, pendekatan kontekstual, dan penerapan asesmen diagnostik berkelanjutan untuk mendeteksi serta menangani miskonsepsi sejak tingkat pendidikan dasar.
Copyrights © 2026