Amalia Natasyafira
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Relationship Between Mental Workload and Burnout Incidences in Special School Teachers (SLB) in Surakarta City Amalia Natasyafira; Salsabila Purnamasari
JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/71zec316

Abstract

Special school (SLB) teachers not only have the responsibility to teach skills and knowledge according to the characteristics and potential of their students, but they are also required to take on roles as paramedics, social workers, counselors, administrators, and therapists. The demands faced by teachers who work in special schools are far greater than those faced by teachers in regular schools. A high mental workload can reduce performance and has a significant positive effect on worker burnout. The purpose of this study was to determine the relationship between mental workload and the occurrence oof burnout among special school (SLB) teachers in Surakarta City. This study used a quantitative method with a cross-sectional research design. The study population was 176 teachers, and the sample size was calculated using the Lemeshow formula with a 95% confidence level, resulting in 121 respondents selected through proportional random sampling. Based on the results of the study, most teacher respondents have a moderate level of mental workload (47,9%) and experience moderate burnout (49,6%). The Chi-Square test shows that there is a relationship between mental workload and burnout among SLB teachers, with a p-value 0,000 (p<0.05). burnout among teachers is an issue that requires attention because they have a responsibility to create a classroom environment that supports learning. Therefore, providing support, recognition, and adequate resource is necessary to reduce the mental workload of SLB teachers and prevent burnout in order to improve occupational health
Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu tentang Hipertensi melalui Edukasi dan Pemanfaatan Daun Kelor sebagai Teh Herbal di Desa Karangmojo Kecamatan Weru Kabupaten Sukoharjo Mochammad Faiq Abdillah; Alda Nabila Permata Sari; Amalia Natasyafira; Rahma Nur Amalia; Pumaya Vintarnuari Tria Choirinnisa; Ghefira Nazma Arroyan; Tazky Aulia Faradina; Wilansari Asih; Dhea Destiana; Halimah Muhtar; Yossa Windira; Sri Darnoto
Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Hipertensi, merupakan kondisi ketika tekanan darah meningkat secara tidak normal. Hipertensi dikenal sebagai "Silent Killer" karena sering kali tidak menimbulkan gejala, namun dapat menyebabkan komplikasi apabila tidak terdeteksi. Secara global, hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Metode: Intervensi dilakukan melalui penyuluhan dan demonstrasi pembuatan teh daun kelor sebagai upaya non-farmakologis pencegahan hipertensi menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan kader tentang hipertensi serta tindak lanjut penerapan hasil edukasi di masyarakat. Hasil: Dengan adanya edukasi tentang hipertensi serta pemanfaatan daun kelor ini para kader akan mendapatkan pengetahuan tentang faktor risiko hipertensi dan bagaimana mengenali hipertensi, serta meningkatkan keterampilan kader dalam mengolah daun kelor menjadi teh herbal. Melalui edukasi dan praktik pengolahan daun kelor menjadi teh herbal, kegiatan ini memperkuat kesadaran masyarakat dalam mengelola faktor risiko hipertensi, mencegah komplikasi, dan menciptakan lingkungan keluarga yang lebih sehat. Dari kegiatan tersebut diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan tentang hipertensi dari 53,8 % meningkat menjadi 91,9 %. Simpulan: Dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat lebih sadar dalam mengelola faktor risiko hipertensi dan melakukan pencegahan secara mandiri dan berkelanjutan melalui konsumsi teh daun kelor serta pengelolaan pola hidup sehat.